Article Time Stamp: 29 November 1999, 22:05:06 GMT+7
Dari: Selamat Panjang Umur
Pengarang: Dr. Iskandar Ismail
Apa yang terjadi jika sebutir ubi telur dimasukkan ke dalam air
mendidih? Apa kedua benda itu keluar dari panci panas dalam
keadaan yang sama dengan keadaan sebelum digodok? Air mendidih
mengubah ubi dan telur itu. Namun perubahan yang terjadi pada
kedua benda itu sangat bertolak belakang.
Setelah digodok, telur menjadi keras. Sebaliknya, ubi menjadi
lembut. Kedua benda itu berada dalam panci yang sama dan air
mendidih yang sama, namun reaksi mereka berbeda. Telur akan
muncul dalam keadaan kerasd, sedangkan ubi akan muncul dalam
keadaan lembut.
Dalam hidup ini, ada masa dimana kita harus masuk ke dalam
panci yang berisi air mendidih, yaitu musibah dan penderitaan.
Dalam musibah, kita merasakan betapa sakit dan nyeri digodok
dalam air mendidih. Musibah dan penderitaan bisa terasa
sangat kejam dan menyakitkan bagaikan menusuk tulang, hati,
dan sumsum.
Apalagi ketika musibah demi musibah datang menimpa bagaikan
tak ada habisnya. Kita seperti terhempas lemas. Kita menunduk
dan menarik nafas panjang, kita bertanya lirih: 'Oh, Tuhan,
mengapa ini harus terjadi ?' Namun kenyataan adalah
kenyataan.
Musibah itu sudah atau sedang terjadi. Jadi yang lebih
mendesak bukanlah persoalan mengapa musibah ini terjadi,
melainkan bagaimana menghadapinya, bagaimana bisa melewati
dan mengatasi musibah ini. Bagaimana bisa survive dalam dan
dari musibah ini. Jika musibah dan penderitaan merupakan ibarat
digodok dalam panci, soalnya adalah bagaimana kita akan keluar
dari panci itu. Apakah kita akan keluar sebagai telur atau ubi?
Ada orang yang keluar dari musibah dalam keadaan yang sangat
tertekan. Mukanya selalu suram. Ia menyendiri. Hidupnya menjadi
pahit dan getir. Sikapnya terhadap orang lain menjadi kaku. Ia
menjadi keras. Ia ibarat telur yang setelah keluar dari air
mendidih menjadi keras.
Sebaliknya, ada orang yang setelah keluar dari musibah justru
menjadi bijak dan matang. Ia merasa damai dengan dirinya.
Sikapnya hangat dan ramah. Ia tersenyum dan menyapa. Ia menjadi
lembut. Ia ibarat ubi yang setelah digodok justru menjadi lembut.
Dampak itu bisa begitu berbeda, sebab pandangan dan ketahanan
orang terhadap penderitaan dan musibah berbeda-beda. Pengarang
surat Yakobus menulis : ' .... turutilah teladan penderitaan
dan kesabaran para nabi .... sesungguhnya kami menyebut mereka
berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah
mendengat tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang
pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan Maha
Penyayang dan penuh kasihan'. (Yakobus 5:10-11).
Paulus mengalimatkan kaitan ini secara lebih terinci: 'Kita
malah bermega juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu
bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan
menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan'
(Roma 5:3-4).
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Penderitaan
dan musibah tidak dapat dihindarkan. Itu adalah bagian dari
hidup. Hidup adalah ibarat roda, sebentar di atas, sebentar
di bawah. Hidup ini ada enaknya dan ada tidak enaknya, yaitu
masuk dalam panci dan digodok dalam air mendidih.
Soalnya, apakah kita akan keluar dari panci panas itu sebagai
telur rebus yang keras ataukah sebagai ubi yang lembut?
Apakah kita akan keluar dari sebuah musibah sebagai orang yang
kaku dan keras atau sebaliknya, sebagai orang yang berhati
lembut? Agaknya, dalam suatu musibah, kita boleh belajar
berbisik: 'Tuhan, biarlah saya menjadi seperti ubi ... seperti
sebutir ubi rebus yang lambut, hangat, dan manis'.
Dari: Selamat Panjang Umur
Pengarang: Dr. Iskandar Ismail