Article Time Stamp: 08 November 2005, 16:37:10 GMT+7
OLEH SAWITRI SUPARDI SADARJOEN, PSIKOLOG
Kompas, Minggu, 30 Oktober 2005
"Ibu, selama tiga bulan terakhir saya benarbenar merasa tersiksa karena
saya tidak bisa melepaskan ingatan tentang seseorang. Begitu kangennya
ingin jumpa dengan orang itu, sering tanpa saya sadari air mata saya
menetes.
"Siapakah orang' itu?" Bekas pacar saya ketika saya masih bersekolah di SMA.
"Cinta pertamakah?" Ya, Bu. Tiga bulan lalu saya bertemu dia di acara reuni
eks siswa angkatan 1955-1975. Terus terang begitu saya ketemu dia hati saya
tiba-tiba berdebar dan tidak berani menatap mukanya. Rupanya dia juga
memerhatikan saya, dan segera menemui saya, mengajak saya bersalaman. Kami
bertukar alamat dan tanpa disangka beberapa hari setelah reuni dia menghubungi
saya melalui telepon saling bertukar cerita tentang segala hal yang dialami
selama hampir 50 tahun tidak bertemu. Saya heran sendiri kenapa bisa begini?
Suami saya baik, keluarga kami hidup cukup, punya dua anak, anak-anak sudah
menikah semua dan memberi tiga cucu. Apakah saya orang yang kurang bersyukur
atau psikopat?" Demikian seorang ibu (K, 65) dengan tiga cucu.
Romantisme cinta
Reuni antar teman SMA memang reuni penuh nostalgia karena masa remaja saat
bersekolah SMA adalah masa penuh bobot gejolak serta gairah bersosialisasi.
Biasanya di situlah remaja mendapat pengalaman jatuh cinta untuk pertama kali.
Sering orang mengatakan cinta SMA adalah cinta pertama yang dinilai hanya
sebagai cinta monyet, sekadar suatu pengalaman penghayatan perasaan kecil
yang dapat berlalu dengan mudah dan jarang berakhir dengan perkawinan. Namun,
ternyata justru cinta pertama dapat memiliki nilai romantisme yang tidak
sederhana pengaruhnya dalam dunia perasaan seseorang. Romantika cinta pertama
sangat didominasi fantasi karena untuk kadar tertentu cinta saat itu adalah
buta.
Gejolak kegairahan emosi membuat para pencinta bisa serentak menjadi pandai
berpuisi dan menempatkan kekasihnya sebagai sosok ideal, bahkan serta merta
bisa mengabaikan informasi-informasi negatif tentang sosok kekaSihnya. Imajinasi,
harapan, dan ide-ide yang menggairahkan memenuhi relung hati pencinta yang
sedang dilanda romantisme. Belum sampai terjadi penurunan kadar fantasi oleh
berbagai sebab, apakah larangan orangtua untuk pacaran semasa masih belajar di
SMA, pindah tempat kota mengikuti orangtua, kecemburuan buta oleh pertemanan
lain, atau perbedaan taraf sosial ekonomi orangtua, sering memaksa remaja memutus
cinta dengan penuh derita.
Kalaupun setelah dewasa pasangan kekasih ini masing-masing membangun keluarga
dengan orang lain, ingatan akan fantasi penuh gairah tentang pasangan cinta
masa remaja tetap mencengkeram kuat di benak masing-masing. Mengapa? Karena
fantasi penuh gairah, imajinasi, dan harapan indah belum sempat diikuti
pengalaman nyata berhubungan, dalam ikatan perkawinan.
Dengan demikian, imajinasi penuh gairah masih bercokol dalam benak, sedangkan
dengan pasangan perkawinan yang telah dilalui selama 40 tahun segalanya menjadi
rutin dan segala hal yang rutin dengan sendirinya melunturkan gairah gejolak
kehidupan perkawinan.
"Pada awalnya saya berbahagia dan menunggu-nunggu dering telepon dari dia,
tetapi lamalama saya kasihan melihat suami saya, dia suami yang baik. Kenapa
saya abaikan suami saya hanya untuk sekadar menjalin hubungan tanpa tujuan jelas
dengan eks pacar di SMA, padahal saya sudah setua ini, punya tiga cucu, hidup
damai dalam keluarga, dan eks pacar juga sudah kakek-kakek, punya dua cucu pula.
"Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan ini dengan cara tegas.
Namun, apa jadinya? Ternyata saya tidak menyangka saya merasa kelimpungan sendiri
dan murung hampir sepanjang hari sehingga timbul pertanyaan dalam diri apakah saya
psikopat?"
Solusi
a) Cinta romantis yang berangkat dari cinta pertama memang mengesankan, namun
bobot fantasi imajinasi sangat besar sehingga sulit ditemukan dalam kenyataan.
Cengkeraman ingatan fantasi dan imajinasi pada masa remajalah yang membuat seolah
first love tidak pernah mati. Umur seolah tidak berperan, sudah jadi kakek-nenek
pun dapat mengalaminya. Jadi K bukan psikopat karena terngiang-ngiang romantisme
cinta pertama, tetapi apa pun alasannya harus diupayakan melepaskannya dari ingatan.
b) Tanamkan dalam benak, andaikan hubungan yang saat ini terasa romantis dilanjutkan
dengan perkawinan, belum tentu sukses karena fantasi romantisme akan cepat sirna
oleh kenyataan yang dihadapi. Apalagi, bila ingatan akan kebahagiaan dalam kebersamaan
dengan anak dan cucu kandung pun muncul kembali tanpa diminta.
Cengkeraman ingatan fantasi dan imajinasi pada masa remajalah yang membuat seolah
"first love" tidak pernah mati.
c) Kesalahan utama dalam ikatan perkawinan adalah kegagalan dalam menjalin hubungan
intim dengan komitmen penuh pada perkawinan. Ketahuilah, relasi intim dengan komitmen
akan menghasilkan relasi pertemanan penuh kasih. Perbaikilah kesalahan ini dan
yakinilah keintiman relasi pertemanan yang penuh kasih lebih stabil daripada gairah
romantisme. Pasangan yang sebanyak mungkin mengekspresikan pertemanan yang penuh kasih
akan meraih kesuksesan perkawinan.
d) Cobalah untuk tetap segar dan terus menggapai setiap kesempatan guna menikmati
pengalaman baru dengan pasangan perkawinan.***