Article Time Stamp: 08 November 2005, 11:08:08 GMT+7
Sandra masuk ke dalam toko bunga dengan langkah berat. Ia sedang
mengalami hal berat dalam kehidupannya. Ketika ia sedang hamil empat bulan pada
kehamilannya yang kedua, sebuah kecelakaan mobil merengut nyawa
janinnya.
Pada minggu "Thanksgiving" ini, ia mungkin akan melahirkan seorang putra
jika kecelakaan itu tidak terjadi. Ia sangat sedih, benar-benar terpukul
atas kejadian itu. Tetapi sepertinya, kejadian itu belum cukup,
perusahaan di mana tempat suaminya bekerja, menugaskan suaminya untuk bekerja di
bagian cabang. Kemudian, adik perempuannya, yang ketika masa liburan tiba
selalu mengunjunginya, menghubunginya karena ia tidak dapat berkunjung pada
liburan kali ini.
Kemudian teman Sandra menasehati Sandra dengan mengatakan bahwa segala
kedukaan yang ia alami adalah jalan Tuhan untuk mendewasakannya sehingga
ia dapat bersikap lebih tenggang rasa terhadap penderitaan orang lain. "Ia
tidak tahu apa yang aku rasakan," pikir Sandra dengan lirih.
Thanksgiving? Berterima kasih untuk apa? pikirnya. Untuk supir truk yang
ceroboh, yang menyerempet mobilnya dengan sangat keras? Untuk kantong
udara penyelamat mobil yang menyelamatkan hidupnya, tetapi mengambil hidup
bayinya?
"Selamat siang, bisa saya bantu?" secara tiba-tiba ia berhenti dari
lamunannya.
"Aku... aku membutuhkan persiapan untuk thanksgiving," jawab Sandra
dengan gagap.
"Untuk Thanksgiving? Apakah kamu ingin suatu hal yang indah, tetapi
sederhana, ataukah kamu ingin menghadirkan situasi yang berbeda seperti
pilihan pelanggan di sini, yang kusebut sebagai 'Thanksgiving istimewa?'
tanya penjaga toko. "Aku yakin bunga-bunga itu menceritakan sesuatu
dalam kehidupanmu," lanjutnya. "Apakah kamu mencari sesuatu yang bisa
menyampaikan rasa terima kasihmu pada hari Thanksgiving ini?"
"Tidak juga!" celetuk Sandra. "Dalam lima bulan terakhir ini, semuanya
yang bisa menjadi buruk benar-benar menjadi buruk."
Sandra menyesali ucapannya tadi, dan sangat terkejut ketika penjaga toko
itu berkata, "Aku telah mempersiapkan sesuatu untukmu di hari Thanksgiving
ini."
Pada saat itu, bel pintu toko berbunyi, dan penjaga toko menyalami
seorang pelanggan yang baru saja masuk. "Hai, Barbara... tunggu sebentar yah,
aku ambilkan pesananmu." Penjaga toko itu masuk ke dalam, menuju ruang
kerjanya, kemudian muncul kembali sambil membawa berbagai macam persiapan untuk
Thanksgiving, seperti tanaman hijau, pita-pita, dan tangkai bunga mawar
duri yang panjang. Anehnya, hanya tangkainya saja, tidak ada bunganya.
"Mau dimasukkan ke dalam kotak?" tanya penjaga toko.
Sandra mengamati reaksi pelanggan itu. Apakah ini hanya lelucon? Siapa
yang mau tangkai mawar tanpa bunganya! Ia menunggu seseorang tertawa, tetapi
wanita itu tidak tertawa.
"Iya, Tolong yah," jawab Barbara dengan tersenyum.
"Aku kira setelah tiga tahun mengalami Thanksgiving yang istimewa, aku
tidak akan tersentuh dengan nilai dari Thanksgiving ini, tetapi aku bisa
merasakannya di sini," ia berkata sambil menyentuh dadanya. Dan ia pergi
dengan pesanannya.
"Uh," gumam Sandra, "wanita itu telah pergi dengan, uh... ia telah pergi
tanpa bunga!"
"Baiklah," kata penjaga toko, "Aku akan memotong bunga itu. Itulah
Thanksgiving istimewa. Aku menyebutnya sebagai 'Karangan Bunga Berduri
Thanksgiving'."
"Ayolah, kau tidak bisa menyebutkan siapa yang bersedia membayar untuk
tangkai bunga seperti itu!" seru Sandra.
"Barbara datang ke toko ini tiga tahun yang lalu dengan perasaan sama
seperti yang kau alami sekarang ini," si penjaga toko menjelaskan. "Ia
berpikir tidak perlu banyak berterima kasih kepada Tuhan. Ia telah
kehilangan ayahnya karena penyakit kanker, bisnis keluarganya juga
sedang buruk, putranya terlibat dalam masalah obat-obatan, dan ia tengah
menghadapi operasi pembedahan yang sangat serius."
"Pada tahun yang sama, aku kehilangan suamiku," lanjut si penjaga toko,
"dan untuk pertama kalinya dalam kehidupanku, aku menghabiskan liburan
sendirian. Aku tidak memiliki anak, suami, kerabat dekat, dan memiliki banyak
utang."
"Jadi apa yang kau lakukan?" tanya Sandra.
"Aku belajar untuk berterima kasih atas segala penderitaanku," jawab
penjaga toko itu dengan pelan. "Dulu aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas
segala hal yang baik dalam kehidupanku dan tidak pernah mempertanyakan mengapa
hal yang terbaik terjadi kepadaku. Tetapi, ketika hal yang buruk menimpaku,
aku mempertanyakan berbagai pertanyaan kepada Tuhan, aku menyalahkan Tuhan,
aku marah kepada Tuhan! Aku membutuhkan waktu lama untuk mengerti dan
mempelajari bahwa saat-saat sulit dan menderita sangatlah penting. Saat
kita menderita itulah, kita memperoleh kekuatan. Aku selalu terlena dengan
'bunga' kehidupanku, tetapi ternyata duri kehidupankulah yang
memperlihatkan kepadaku keindahan dari kerahiman Tuhan. Kau tahu, dalam alkitab
tertulis bahwa Tuhan selalu menghibur kita ketika kita menderita, Tuhan
memberikan kepada kita kekuatan, dan dari penghiburanNya lah kita belajar untuk
menghibur orang lain."
Sandra mulai berpikir tentang perkataan temannya yang mencoba untuk
memberitahukan kepadanya. "Aku rasa yang benar adalah aku tidak perlu
dihibur. Aku telah kehilangan bayiku dan aku marah terhadap Tuhan."
Pada saat itu juga seseorang masuk ke dalam toko. "Hey, Phil!" teriak
penjaga toko kepada seorang pria botak bertubuh gemuk.
"Istriku memintaku untuk mengambil pesanan Thanksgiving istimewa... dua
belas tangkai duri!" canda Phil ketika si penjaga toko menyerahkan
sebuah bungkusan persiapan Thanksgiving.
"Semuanya itu adalah untuk istrimu?" tanya Sandra ragu. "Apakah kau
keberatan jika aku bertanya mengapa ia menginginkan sesuatu seperti itu
pada hari Thanksgiving?"
"Tidak... bahkan aku sangat senang kau bertanya," jawab Phil. "Empat
tahun lalu, aku dan istriku hampir bercerai. Setelah empat puluh tahun, kami
berada dalam keadaan yang kacau, tetapi dengan kasih Tuhan dan
bimbinganNya, kami berhasil mengatasi masalah demi masalah. Tuhan telah menyelamatkan
pernikahan kami. Jenny di sinilah (sang penjaga toko) yang mengatakan
kepadaku bahwa ia menyimpan vas bunga yang berisikan tangkai bunga mawar
untuk mengingatkan kepadanya apa yang ia pelajari dari saat-saat
'berduri' dalam kehidupannya, dan itu sangatlah menjelaskanku. Aku membawa
beberapa tangkai bunga mawar ke rumah. Lalu aku dan istriku memutuskan untuk
menamai setiap tangkai bunga dengan masalah yang kami hadapi, kami berusaha
untuk mengerti maksud dari masalah itu, dan ternyata duri-duri yang kami alami
itu benar-benar memberikan kekuatan kepada kami, kami berterima kasih kepada
Tuhan atas pelajaran dari masalah itu."
Setelah Phil membayar penjaga toko itu, ia berkata kepada Sandra, "Aku
sangat menyarankan agar kau mengambil yang 'istimewa'"
"Aku tidak mengetahui apakah aku bisa bersyukur atas duri kehidupanku,"
kata Sandra. "Semua duri itu masih sangatlah.... baru."
"Baiklah," jawab penjaga toko itu dengan hati-hati, "pengalamanku telah
menunjukkan kepadaku bahwa duri dalam kehidupan kita telah membuat
bunga-bunga kehidupan kita lebih berharga. Kita menyimpan anugerah Tuhan
lebih baik selama kita berada dalam masalah dibandingkan dengan
saat-saat lain. Ingat, karena mahkota duri yang Yesus kenakanlah sehingga kita
dapat mengalami kasihNya. Jangan menyesali duri-duri kehidupanmu. Duri-duri
kehidupanmu itulah yang membentukmu dan memberimu kekuatan."
Air mata mengalir deras di pipi Sandra. Untuk pertama kalinya sejak
kecelakaan itu, ia menghilangkan duka dan penyesalannya. "Aku akan
mengambil dua belas tangkai bunga berduri, tolong yah...." ia berkata sambil
terisak-isak.
"Baiklah, aku akan menyiapkan mereka dalam beberapa menit," jawab
penjaga toko itu dengan ramah.
"Terima kasih. Berapa semua biayanya?"
"Tidak ada. Tidak ada, yang ada hanya suatu janji bahwa kau akan
mengijinkan Tuhan untuk menyembuhkan hatimu. Biarkan aku membelikanmu barang
persiapan untuk Thanksgiving tahun pertamamu." penjaga toko itu tersenyum dan
menyerahkan sebuah kartu kepada Sandra. "Aku selipkan kartu ini dalam
barang-barang persiapan Thanksgiving, tetapi mungkin kau ingin
membacanya terlebih dahulu."
Di dalam kartu itu tertulis : "Tuhanku, aku belum pernah bersyukur
kepadaMu untuk semua duriku. Aku berterima kasih kepadaMu atas segala bunga
kehidupan yang kuterima, tetapi belum pernah sekalipun aku berterima kasih untuk
penderitaanku. Ajarilah aku untuk menanggung beban salibku dengan tabah,
ajarilah aku untuk menghargai nilai yang terkandung dari setiap
penderitaan atau duri yang kuhadapi. Tunjukkanlah kepadaku, bahwa lewat jalan yang
sulit, menderita, dan jalan yang penuh dengan kerikil, setiap hari aku
semakin bertambah dekat denganMu. Tunjukkanlah kepadaku, ya Tuhan, lewat
air mataku, warna pelangiMu yang sangat indah."
Pujilah nama-Nya untuk segala bunga kehidupanmu, berterima kasihlah
kepadaNya untuk semua duri yang kau peroleh!