StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 28 March 2001, 12:42:00 GMT+7
Sepasang Burung Dengan Sebelah Sayap

Seorang teman dengan potensi tinggi, mengeluh berat setelah pindah-pindah
kerja di lebih dari lima tempat. Tadinya, saya fikir ia mencari penghasilan
yang lebih tinggi. Setelah mendengarkan dengan penuh empati, rekan ini
rupanya mengalami kesulitan dengan lingkungan kerja. Di semua tempat kerja
sebelumnya, dia selalu bertemu dengan orang yang tidak cocok. Di sini tidak
cocok dengan atasan, di situ bentrok dengan rekan sejawat, di tempat lain
malah diprotes bawahan.

Kalau rekan di atas berhobi pindah-pindah kerja, seorang sahabat saya yang
lain punya pengalaman yang lain lagi. Setelah berganti istri sejumlah tiga
kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa
capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini. Seorang pengusaha
berhasil punya pengalaman lain lagi. Setiap kali menerima orang baru sebagai
pimpinan puncak, ia senantiasa semangat dan penuh optimis. Seolah-olah orang
baru yang datang pasti bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi,
begitu orang baru ini berumur kerja lebih dari satu tahun, maka mulailah
kelihatan busuk-busuknya. Dan iapun mulai capek dengan kegiatan
berganti-ganti pimpinan puncak ini.

Digabung menjadi satu, seluruh cerita ini menunjukkan bahwa kalau motif kita
mencari pasangan - entah pasangan hidup maupun pasangan kerja - adalah
mencari orang yang cocok di semua bidang, sebaiknya dilupakan saja.

Bercermin dari semua inilah, maka sering kali saya ungkapkan di depan lebih
dari ratusan forum, bahwa fundamen paling dasar dari manajemen sumber daya
manusia adalah manajemen perbedaan. Yang mencakup dua hal mendasar :
menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan.

Sayangnya, kendati idenya sederhana, namun implementasinya memerlukan upaya
yang tidak kecil. Ini bisa terjadi, karena tidak sedikit dari kita yang
menganggap diri seperti burung yang bersayap lengkap. Bisa terbang (baca :
hidup dan bekerja ) sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain. Padahal,
meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo, kita semua sebenarnya
lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang
kalau mau berpelukan erat-erat bersama orang lain.

Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan dan bacaan saya
menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap
sebelah terakhir. Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin
berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak
pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk
'berpelukan' dengan anggota keluarga yang lain. Di tingkat pemimpin negara,
orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau berpelukan bersama
orang yang dulu pernah menyiksanya.

Lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuh cinta. Ia
tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin,
mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat
semuanya tampak indah dan menyenangkan. Makanya, penulis buku Chicken Soup
For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar.
Demikian besarnya makna dan dampak cinta, sampai-sampai ia tidak bisa
dibandingkan dengan apapun. Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak
pernah mengenal cinta. Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di
puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia.

Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta. Di pagi hari
ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan
pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah
itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang
rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah
sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri. Melihat burung
gereja yang memakan nasi yang sengaja diletakkam di pinggir kali, juga
menghasilkan pelukan cinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor,
godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai
dengan nafsu untuk memecat orang. Namun, begitu saya ingat karyawan dan
karyawati bawah yang bekerja penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut
yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta
entah datang dari mana.

Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap, Tuhan
memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna. Kita selalu lebih di
sini dan kurang di situ. Atau sebaliknya. Kesombongan atau keyakinan
berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang
lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap
sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.

Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah
sayap. Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat
apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya
sebelah. Oleh karena alasan inilah, saya selalu ingat pesan seorang rekan
untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan. Entah itu memeluk anak,
memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau
di kantor memulai kerja dengan 'memeluk' orang lain.
---------------------------------------------------------------------
PS: Disadur dari sebuah kisah pengalaman seseorang yg mencari makna
kehidupan.


 Back To Previous Page ...