Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 17 August 2001, 08:35:00 GMT+7
ANAK GADIS KITA

Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam.
Tapi malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika
telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat
jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat
tengah malam.
Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon.

"Hallo?" dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telepon itu
erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat.

"Mama?" terdengar suara di seberang sana. Aku masih bisa mendengar
bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung
tertuju pada anak gadisku.

Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan mennarik-narik
pergelangan tangan suamiku.

"Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata
apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku
macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari
ini aku lari dari rumah, dan..."

Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada
suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan
pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak
beres.

"...Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah
melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang.
Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar
cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari
yang lalu, tapi aku takut...takut..."

Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba.
Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih.

"Begini..."
"Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara." Ia
meminta.
Ia tampak putus asa. Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku
katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan,

"Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku
takut. Aku sungguh-sungguh takut!"

Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk
mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan,
"Siapa itu?"

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab
pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali
sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang
tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara
tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama
masih ada di sana?
Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang.
Aku merasa kesepian."

Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta
pertimbangannya.

"Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku.
"Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama
hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang
selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama
tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku.
Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama
pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak
membutuhkan nasehat mama.
Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."

Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku
tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang
tergeletak di sisi tempat tidurku.

"Mama mendengarkanmu," aku berbisik
"Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di
perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah
panggil taxi.
Aku mau pulang sekarang."
"Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan
dadaku.

Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya.
"Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri
mobil sendiri"
"Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman
tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup
telepon ini sampai taxi itu datang."
"Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama."
"Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk
mamamu."

Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya,
aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya
mengemudikan mobil itu sendiri.

"Nah, itu taxinya datang."
Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega.

"Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu.
Airmata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak
gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari
belakang.
Dagunya ditaruh di atas kepalaku. Aku menghapus airmata dari pipiku.

"Kita harus belajar mendengarkan," kataku pada suamiku.
Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar
kalau ia telah menelepon nomor yang salah?"

Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada
suamiku,
"Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."
"Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari
balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap,
"Kami baru saja belajar," jawabku.
"Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya
terpejam lagi. "Mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya.


 Back To Previous Page ...