Article Time Stamp: 20 December 2001, 14:34:46 GMT+7
"The 7 Habits of Highly Effective People"
by Stephen Covey
Stephen Covey dalam bukunya "The 7 Habits of Highly Effective People"
menguraikan hal-hal sebagaimana tertulis di bawah ini.
* Yang membedakan orang-orang yang sangat efektif dengan orang kebanyakan
yang tidak produktif adalah, bukan pada apa yang mereka miliki, tetapi
pada kebiasaan-kebiasaannya.
* Watak seseorang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaannya. Di alam bawah
sadar,kebiasaan - kebiasaan itu membentuk dan mengubah watak seseorang.
Dan ternyata kebiasaan-kebiasaan itu bisa diubah, asal kita mau, walaupun
membutuhkan waktu.
sow a thought, reap an act
sow an act, reap a habit
sow a habit, reap a character
sow a character, reap a destiny
taburlah pemikiran, maka Anda akan menuai tindakan
taburlah tindakan, maka Anda akan menuai kebiasaan
taburlah kebiasaan, maka Anda akan menuai watak
taburlah watak, maka Anda akan menuai nasib Anda
* Kebiasaan itu sendiri terjadi karena adanya paradigma. Yang dimaksudkan
dengan paradigma adalah sudut pandang atau kerangka yang terbentuk oleh
pengalaman hidup, pendidikan maupun latar belakang kita.
* Paradigma inilah yang menentukan bagaimana kita memandang dan
mengartikan dunia ini, dan dengan demikian menentukan bagaimana kita
bereaksi dan bersikap terhadapnya. Sebagai contoh, mula-mula astronom
Mesir, Ptolemy, mengatakan bahwa dunia adalah pusat dari jagat raya.
Tetapi kemudian Copernicus menyebabkan perubahan paradigma, ketika dia
membuktikan bahwa sebenarnya mataharilah yang merupakan pusat dari jagat
raya.
* Pengertian akan konsep paradigma ini membuat orang belajar mengerti
bagaimana orang lain memandang persoalan yang sama dengan kacamata yang
berbeda. Pengertian tentang paradigma ini juga dapat menghindarkan orang
dari sikap merasa dirinya sebagai korban lingkungan atau orang lain,
sehingga seringkali melakukan "blaming to others" (menyalahkan orang
lain), karena mengangap dunialah yang salah kalau sesuatu itu tidak sesuai
dengan harapannya.
Selanjutnya Stephen Covey menjelaskan bahwa di dunia ini ada hukum alam
untuk kematangan. Seorang bayi berkembang dari ketergantungan pada
orangtuanya menjadi mandiri sebelum akhirnya mencapai kematangan
pemahaman akan saling ketergantungan dengan orang lain di sekitarnya.
Ekosistem alam tercermin dalam ketergantungan kolektif dari masing-masing
warga masyarakat, satu terhadap yang lain.
* Ketergantungan seorang bayi paradigmanya adalah "Engkau" (engkau
merawatku; kalau ada yang salah, itu salahmu), sedangkan pada kemandirian
remaja,paradigmanya adalah "Aku" (ini pilihanku, aku akan mengerjakannya
sendiri). Dan dalam tahap saling tergantung orang dewasa, paradigmanya
adalah "Kita" (kita bisa bekerja sama, sebaiknya kita bersatu).
* Dalam proses kematangan seseorang dari tahap ketergantungan (dependent)
menjadi kemandirian (independent) dan kemudian saling tergantung
(interdependent); ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikuasai supaya
seseorang bisa menjadi sangat efektif.
* Stephen Covey menyatakan adanya tujuh kebiasaan yang perlu dimiliki.
Tiga di antaranya berkaitan dengan penguasaan diri yaitu:
1. Jadilah proaktif (Be Proactive).
2. Merujuk pada tujuan akhir (Begin with the End in Mind).
3. Dahulukan yang utama (Put First Thing First).
Kalau kita dapat menguasai ketiga kebiasaan ini maka kita akan mengalami
apa yang disebut "kemenangan pribadi" (private victory), dan kita boleh
dikatakan telah mencapai tahap kemandirian (independent).
* Setelah mandiri ini, kita dapat meraih "kemenangan publik" (public
victory) dengan menguasai ketiga kebiasaan selanjutnya yaitu:
4. Berpikir menang-menang (Think Win-Win).
5. Berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti
(Seek first to Understand then to be Understood).
6. Wujudkan sinergi (Synergize).
* Proses ini tidak bisa dibalik, sebagaimana kita tidak mungkin panen
sebelum menanam. Jadi prosesnya berlangsung dari dalam keluar (inside
out), yaitu memulai dari diri sendiri baru dengan orang lain.
* Kebiasaan ke 7 yaitu "Asahlah gergaji" (sharpen the saw) adalah
kebiasaan untuk melakukan pengembangan diri.
Kebiasaan 1 : Jadilah proaktif (Be Proactive).
* Bersikap proaktif tidak hanya berarti mengambil inisiatif tetapi juga
bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya.
* Seorang yang proaktif mempunyai kebebasan memilih sendiri
keputusan-keputusannya dan bertanggung jawab akan akibat dari keputusannya
itu. Sedangkan seorang yang reaktif (kebalikan dari proaktif) sikapnya
berdasarkan kondisi atau sikap orang lain dan karena itu tidak merasa
bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya sehingga selalu menyalahkan
keadaan atau orang lain.
Di bawah ini adalah contoh-contoh pernyataan orang yang Reaktif dan
Proaktif.
Pernyataan Reaktif: Pernyataan Proaktif:
1. Saya tidak bisa berbuat apa-apa 1. Apa pilihan yang ada tentang itu ?.
2. Begitulah sifat saya. 2. Apa yang dapat saya perbaiki ?
3. Dia sih yang bikin aku marah. 3. Saya yang menguasai emosiku.
4. Saya tidak bisa. 4. Saya mau atau tidak mau.
5. Saya terpaksa. 5. Saya suka atau tidak suka.
6. Seandainya saja ............... 6. Saya hendak dan merencanakan.
Kebiasaan 2 : Merujuk pada tujuan akhir (Begin with the End in Mind).
* Ini adalah kebiasaan kepemimpinan diri (personal leadership), yaitu
memulai suatu kegiatan dengan suatu kejelasan tentang apa hasil yang ingin
dicapai.
* Segala sesuatu diciptakan dua kali. Produk apa pun yang dihasilkan pada
mulanya telah ada sebagai konsep, baru kemudian secara fisik. Misalnya:
membangun rumah, selalu ada rancangannya terlebih dahulu.
* Kepemimpinan adalah "ciptaan pertama", yaitu "doing the right things".
Manajemen adalah "ciptaan kedua", yaitu "doing things right".
Kebiasaan 3: Dahulukan yang utama (Put First Thing First).
* Ini adalah kebiasaan mengelola prioritas. Kita harus bisa membedakan apa
yang penting (important) dan apa yang mendesak (urgent).
* Hal-hal yang mendesak selalu "menyerang" kita, dan biasanya kita
bereaksi terhadapnya; waktu kita banyak yang habis untuk mengurusi
hal-hal yang mendesak ini, dan seringkali melupakan hal-hal yang justru
penting.
* Orang-orang yang sangat efektif pandai menggunakan waktunya untuk
mengelola hal-hal yang penting, dan sikapnya yang proaktif akan mengurangi
timbulnya hal-hal yang mendesak.
Kalau ketiga kebiasaan ini bisa kita kuasai maka kita bisa dikatakan
mandiri,dan kini siap memasuki kehidupan yang saling tergantung atau
interdependent. Agar kita bisa sangat efektif dalam hidup yang saling
tergantung, kita perlu memiliki kebiasaan-kebiasaan selanjutnya.
Kalau kita dapat menguasai ketiga kebiasaan ini maka kita akan mengalami
apa yang disebut "kemenangan pribadi" (private victory), dan kita boleh
dikatakan telah mencapai tahap kemandirian (independent).
* Menang-menang adalah suatu sikap mental untuk mencari keuntungan
bersama.
* Pada dasarnya ada enam paradigma interaksi manusia; empat di antaranya
adalah:
* Menang/Kalah. Semboyannya "Kalau Anda menang, saya pasti kalah; jadi
saya harus menang, dan Andalah yang kalah" (contoh: kepemimpinan yang
otoriter). Segala sesuatu menjadi persaingan dan setiap kemenangan harus
menyebabkan kekalahan pihak lain.
* Kalah/Menang adalah mentalitas orang kalah yang selalu tunduk pada
keinginan pihak lain. "Apa sajalah, asal tetap damai". Ini lebih buruk
daripada sikap Menang/Kalah karena sama sekali tidak mempunyai pendirian
atau keberanian untuk menyatakan keyakinannya. Yang ada hanya mengalah
terus-menerus.
* Kalah/Kalah adalah hasil jika dua orang keras kepala, egois dan bersikap
mau menang sendiri bertemu. Ini dapat berubah menjadi obsesi permusuhan
yang dapat mendorong terjadinya peperangan. Orang dikuasai oleh dorongan
untuk mengalahkan pihak lain, bahkan tanpa peduli akan kerugiannya
sendiri.
* Menang/Menang adalah falsafah yang dianjurkan Stephen Covey bagi
hubungan antara manusia. Yaitu, mencari terus menerus akan manfaat timbal
balik dalam setiap interaksi. Dengan menganut paradigma ini, seseorang
tidak akan bahagia kalau pihak lainnya tidak bahagia juga. Hidup ini
dipandang sebagai kerjasama bukan sebagai permusuhan. Orang yang efektif
berprinsip menang-menang dalam tindakannya dan kesepakatannya. Mentalitas
menang-menang ini baru bisa dilakukan kalau kita punya "abundance
mentality", yaitu pemikiran bahwa segala sesuatunya itu berkelebihan
sehingga tidak perlu kita mematikan orang lain untuk mendapatkan
keuntungan. Orang yang mempunyai sikap menang-kalah didasari oleh "scarcity
mentality", seakan-akan segala sesuatunya itu terbatas sehingga harus
diperebutkan, bilamana perlu dengan mengalahkan pihak lain.
Kebiasaan 5 : Berusaha mengerti terlebih dahulu baru dimengerti
(Seek first to Understand then to be Understood).
Inilah kebiasaan berkomunikasi secara efektif. Para dokter menganalisa
penyakit pasiennya sebelum memberi resep. Seorang top salesman akan
mempelajari kebutuhan pelanggannya terlebih dahulu sebelum menawarkan
produk atau jasanya.
* We see the world as we are, not as it is. Kita melihat dunia dari
kacamata kita bukan sebagaimana adanya. Persepsi kita dibentuk oleh
pengalaman-pengalaman kita, dan seringkali hal ini membatasi kita.
Tantangan untuk memecahkan perbedaan pendapat adalah dengan mencoba
mengerti sudut pandang atau paradigma orang lain terlebih dahulu.
* Kalau kita bisa mengerti secara penuh seseorang, maka ia akan menurunkan
tembok pembatasnya.
* Memaksakan kehendak kita secara emosional tidak akan produktif malahan
sebaliknya: counterproductive.
Kebiasaan 6 : Wujudkan sinergi (Synergize).
* Ini adalah kebiasaan untuk mewujudkan kerja sama dan mencari
alternatif-alternatif baru yang jauh lebih besar.
* Sinergi berarti 1 + 1 2. Sinergi adalah hasil dari menciptakan suasana
di mana orang - orang yang berbeda dapat saling memberi sumbangannya
berdasarkan kekuatan masing-masing sehingga hasilnya akan lebih besar
dibandingkan bila dikerjakan sendiri-sendiri.
* Sinergi adalah pendekatan yang paling efektif untuk memecahkan persoalan
daripada sikap yang apatis (asal damai saja) ataupun konfrontasi (tidak
mau kalah).
Bila kita dapat menguasai kebiasaan nomor 4, 5 dan 6 maka dapat meraih
"kemenangan publik" (public victory).
Kebiasaan 7 : Asahlah gergaji (Sharpen the Saw).
* Ini adalah kebiasaan untuk perbaikan diri. Istilah ini berasal dari
kisah dua orang tukang kayu. Yang satu terus menggergaji dan merasa
terlalu sibuk untuk berhenti sebentar. Yang lain berhenti sesekali
untuk mengasah gergajinya. Justru yang kedua ini hasilnya lebih banyak
dan lebih baik.
* Seorang yang efektif akan melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk
mengembangkan pertumbuhan pengetahuan, mental, spiritual maupun ketahanan
fisiknya,karena menyadari bahwa dengan pengembangan diri itu dia bisa
lebih produktif dan efektif dan tidak "habis-habisan".