Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 18 April 2004, 12:32:22 GMT+7
Suatu ketika di India, hidup seorang pendeta
dengan putrinya yg amat cantik.
Ia kebingungan karena adanya lamaran dari 3
orang pendeta muda, yg semuanya
berkata akan bunuh diri kalau tidak bisa
mempersunting putri pendeta itu.

Sebelum bisa memutuskan lamaran mana yg
diterima, putri pendeta tiba2
meninggal dunia. Ketiga pendeta muda
menunjukkan perilaku yg
berbeda dalam mensikapi kematian putri itu.

Pendeta 1 :
Duduk di atas tempat pembakaran mayat sang
putri. Ia membuat gubuk dan
menetap di sana terus menerus. Ia tidak mau
meninggalkan tempat itu.
Tak berhenti ia melantunkan doa pujian untuk
arwah sang putri.

Pendeta 2 :
Pergi ke Sungai Gangga untuk melaburkan
tulang belulang dalam rangka
menyempurnakan kematian sang putri. Sesuai
tradisi Hindu, seseorang
melaburkan tulang belulang orang yg
meninggal sebagai tanda kecintaannya.

Pendeta 3 :
Pergi berkelana, sampai akhirnya menemukan
sebuah kitab suci yg bisa
menghidupkan orang yg sudah mati. Singkat
cerita, dengan kitab suci
yg ditemukan pendeta ke 3, sang putri hidup
kembali.

Dan tambah bingung karena
ketiga pendeta merasa paling berhak menikahi
putri itu.

Pendeta 1 berkata:
"Sayalah yg menunggunya siang malam seraya
melantunkan doa pujian untuknya"

Pendeta 2 :
"Sayalah yg melaburkan tulang belulangnya di
S.Gangga"

Pendeta 3:
"Sayalah yg menemukan kitab suci yg
menghidupkannya kembali"

Pertanyaannya:
"Siapakah diantara ketiga pendeta muda itu
yg berhak jadi suami sang putri?"

Jawabannya:
Pendeta 3 :
Karena telah menghidupkan putri itu kembali
maka ia berada dalam posisi
sebagai... BAPAK.

Pendeta 2 :
Karena telah melaburkan tulang di Gangga,
telah melakukan pengabdian.
Karena itu dia lebih pantas menjadi ...ANAK.

Pendeta 1:
Pendeta inilah yg lebih berhak menjadi
SUAMI, karena ia terus menerus
berada di tempat pembakaran mayat sang putri. Ia
tetap mencintai putri itu
"walaupun" sudah menjadi debu, "walaupun" ia
tidak bisa lagi melihat senyuman sang putri, "walaupun" ia tidak
bisa lagi mendengar suara gadis yg
dicintainya itu. Ia tetap setia menunggu di
tempat itu sampai kapan pun.

"L'amour n'est pas "parce que" mais "malgre""
Cinta itu bukan "karena", tetapi "walaupun"
i love you no matter what.....
not i love you because......


 Back To Previous Page ...