Article Time Stamp: 08 November 2005, 12:03:56 GMT+7
Saya dan Perempuan 'Aneh' di KWK 02
Penulis: Helvy Tiana Rosa
(http://helvytr.multiply.com)
Saya dan Perempuan 'Aneh' di KWK 02
Saya pertama kali bertemu dengan perempuan itu
kira-kira dua minggu yang lalu. Hampir saya berteriak
kaget ketika masuk ke dalam angkutan KWK 02 dan
bertubruk pandang dengannya. Apalagi tak seorang pun
ada dalam angkutan jurusan Cililitan-Cilangkap itu.
Waktu menunjukkan pukul 22.00. Malam pekat. Saya
pulang dari TIM, usai rapat dengan teman-teman Dewan
Kesenian Jakarta. Saya memang sengaja tak naik taksi,
agar bisa lebih hemat. Ah, saya menarik napas tak
panjang. Perempuan itu tak berkedip menatap saya. Saya
membuang wajah ke jalan raya, tak mau balas menatap.
Ya Allah, siapa dia? Kapan ia turun? Di mana ia turun?
Ada apa dengannya? Pertanyaan-pertanyaan itu
berkecamuk di benak saya. Apakah ia gila? Mau
menodong? Apa ia akan membayar ongkos? Atau perlu saya
bayari?
Akhirnya, setelah cukup lama berdua-dua di angkot,
perempuan itu pun turun di depan panti jompo,
Cipayung. Entah mengapa saya merasa lega sekali.
Setelah kejadian tersebut saya masih beberapa kali
bertemu perempuan itu. Sukar bagi saya menggambarkan
sosoknya. Ia legam dan sedikit bungkuk. Badan pendek,
seolah bersisik. Rambutnya pendek dan acak-acakan,
seperti tak pernah disisir.. Matanya bulat seolah mau
keluar dari kelopak. Bibir sumbing sedang giginya
panjang tak beraturan. Ia memakai baju kumal yang
membuatnya semakin kusam saja. Pergelangan tangannya
dipenuhi gelang karet berwarna-warni.
Dua kali saya bertemu dalam angkot. Pertama hanya
berdua, dan berikutnya beramai-ramai dengan 6-7 orang
lainnya. Semua tak ada yang 'berani' melihatnya. Ia
seperti orang yang entah datang dari mana dan terus
menatapi para penumpang satu persatu. Malah setelah ia
turun dari kendaraan, seorang lelaki berkata:
"Gila, saya kira penampakan! Serem banget tuh
perempuan!"
Setelah pertemuan kedua, entah mengapa saya mulai
berpikir bahwa ia hanyalah perempuan biasa seperti
juga saya. Ia mungkin bekerja di suatu tempat
sebagaimana saya. Wajahnya memang seram, namun
bukankah ia tak pernah sekalipun mengganggu?
Hari berikutnya, KWK 02 yang saya naiki dari
Cililitan, dipenuhi penumpang. Saya melihat perempuan
itu naik dari Kramat Jati. Begitu ia hadir, hampir
semua penumpang buang muka atau menunduk. Pokoknya tak
mau melihat, dan kalau bisa tak dekat dengannya.
Ia masuk, mengangguk pada saya. Saya terpana dan
membalas anggukannya. Tak lama seorang ibu-yang tampak
terrpelajar-membagi-bagikan brosur dalam angkot.
"Ada lowongan kerja di perusahaan saya. Langsung
daftar aja. Gajinya lumayan loh," katanya.
Semua orang mendapat brosur, tapi tidak perempuan itu.
Tiba-tiba saya merasakan sesuatu di batin saya.
Mengapa ibu itu tak mau memperlakukan wanita tersebut
sederajat dengan penumpang yang lain? Apa karena ia
buruk rupa? Apa karena ia dianggap tak pantas, meski
sekadar memegang brosur wangi itu? Lantas mengapa jadi
saya yang sedih?
Entah datang darimana, tiba-tiba saya sudah menyapa
perempuan 'aneh' itu.
"Kemana, mbak? Kita sudah beberapa kali bertemu ya?
Ingat nggak?" sapa saya.
Beberapa orang di dalam angkot nyaris terbelalak
memandang saya seakan-akan saya adalah orang aneh
lainnya di sana. Saya tersenyum saja.
"Iya mbak. Saya mengenali mbak," tuturnya sopan.
"Saya juga," saya tertawa. "Mbak dari mana? Kerja
atau...?"
Saya mencoba untuk tak mempersoalkan wajahnya. Ya
Allah, hanya Engkau yang sempurna. Kami hanya sesama
hambamu. Tak ada yang lebih di mataMU dari kami,
selain taqwa kami.
Sungguh, siapa menjamin aku lebih baik dari perempuan
ini.
Tak lama kami sudah mengobrol dengan asyik. Perempuan
itu bercerita, ia menjaga anak kakaknya bila sang
kakak pergi bekerja.
"Kakak saya yang menggaji saya," katanya tertawa. Ia
hampir setiap malam naik angkutan 02.
Lalu kami ngobrol soal hujan, banjir, soal panti
balita dan panti jompo di dekat rumahnya, sampai soal
tsunami. Saya sampai kaget sendiri bisa sejauh itu.
Tak lama, perempuan tersebut bersiap turun. Namun apa
yang ia katakan sebelum sosoknya berlalu, tak mungkin
bisa saya lupakan.
"Semoga Allah menjaga Mbak. Saya senang akhirnya ada
orang yang mau negur saya, yang ngajak ngomong di
angkot. Terimakasih ya. Assalaamu'alaikum," suaranya
bergetar seperti ingin menangis.
Kata-kata perempuan itu berhamburan bersama angin.
Namun saya sempat menangkapnya dan sesuatu terasa
"nyes" di hati. Orang-orang dalam kendaraan itu tak
ambil pusing.
"Gila nggak sih cewek itu?" celutuk seorang pemuda
pada saya.
Saya menggeleng. Benar-benar menggeleng untuk beberapa
detik.
Pada akhirnya saya tahu betapa berarti, betapa
mewah-nya sebuah sapa. Bukankah sapa adalah salah satu
bentuk penghargaan kita terhadap orang lain? Maka apa
yang menghalangi kita untuk lebih sering menyapa?
Bukan hanya pada mereka yang kita kenal, yang
kebanyakan necis dan wangi. Namun juga menyapa mereka,
yang tanpa sadar telah kita sisihkan dari jalan yang
selama ini kita lalui.
Hari ini saya yakin, Mbak Sri, perempuan itu, bukan
orang aneh. Ia hanya perempuan yang memendam rindu
bertahun-tahun lamanya, hanya untuk sebuah sapa yang
kau ucapkan di malam dingin.***