Article Time Stamp: 20 December 2001, 13:40:48 GMT+7
Subject: cinta itu tidak buta tapi menerima
Cinta membutuhkan proses
========================
Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal
dari pandangan pertama.
"Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan
emosi yang kompleks," katanya. Untuk tumbuh dan
berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi memang
tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak
ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta
tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh
dari langit. Cinta datang hanya ketika dua
individu telah berhasil melakukan orientasi
ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih
orang lain sebagai titik fokus baru. Yang
mungkin terjadi dalam fenomena "cinta pada
pandangan pertama" adalah pasangan terserang
perasaan saling tertarik yang sangat kuat --
bahkan sampai tergila-gila.
Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi
cinta tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus
"cinta pada pandangan pertama", banyak orang
tidak benar- benar mencintai pasangannya,
melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu
sendiri. Sebaliknya dengan
orang yang benar- benar mencinta. Mereka mencintai
pasangan sebagai persolinatas yang utuh.
Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi
================================================
Bukan cinta namanya bila kita berkehendak
mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita
bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang
mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan
atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk
berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila
kita
berkeinginan menguasai kekasih (membatasi
pergaulannya, melarangnya beraktivitas
positif, mengatur seleranya berbusana) atau
melulu mengalah (tidak protes bila kekasih
berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan),
berarti kita belum siap memberi dan menerima
cinta.
Cinta itu konstruktif
=====================
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi
kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan)
pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi
konstruktif, dan merencanakan masa depan.
Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif.
Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia
kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat
terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan
hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak
mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi
subsitusi kenyataan.
Cinta tidak melenyapkan semua masalah
=====================================
Penganut faham romantik percaya cinta bisa
mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi
segala penyakit ( panacea ). Kemiskinan dan banyak
problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal
cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib
itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih
berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat
apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa
dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk
kepayang -- berarti tidak benar-benar mencinta --
cenderung membutakan mata saat tercegat masalah.
Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia
mengenyampingkan problem.
Cinta cenderung konstan
=======================
Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut
curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih
turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita
merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama,
itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan
melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali
bersama, kita memandang kekasih dengan lebih
kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu.
Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih
hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak
lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal
sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik
fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan
jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar
sebanding.
Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik
==========================================
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting.
Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya
sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor
lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan
memberi makna penting bagi setiap kontak fisik.
Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan
bila kita dan pasangan saling menyukai
personalitas masing-masing. Maka bukan cinta
namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap
kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan
tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud
belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu
menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.
Cinta tidak buta, tapi menerima.
================================
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang
mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih.
Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan
mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk
itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari
perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik
kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik.
Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk,
orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu
menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga
meninggalkan pasangan saat keinginannya
terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil
keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.
Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan
=======================================
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan
perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia
menghindari segala hal yang mungkin merusak
hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan
yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan
memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila
mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih.
Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar
kekasih menerimanya, sehingga tercapailah
kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta
menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.
Cinta berani melakukan hal menyakitkan
======================================
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang
sungguh- sungguh mencinta memiliki perhatian,
keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk
melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi
kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata "tidak"
saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.
Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada
pasangan.