MEMBUKA TANGAN LEBAR-LEBAR
(Ulangan 15 : 7 -11)
Tidak terlalu mudah untuk bersikap murah hati seperti yang dikatakan dalam Ulangan 15:7-11. Atau gampang dikatakan, tidak terlalu mudah dilaksanakan. Jadi, jangan pernah membayangkan mengikuti perintah Tuhan adalah perkara yang gampang, cuma memang ada anak-anak Tuhan yang hidup mencari gampangnya, tidak terlalu pusing memikirkan apa perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Bahkan seringkali kita mengharapkan perintah Tuhan, gampang dilaksanakan.
Dalam kehidupan di Jakarta yang seringkali rasa aman selalu dipertanyakan, ada nasehat begini : 'Jangan terlalu percaya kepada semua orang, karena kita sendiri akan menanggung akibatnya'. Oleh karena itu, demi keamanan; kita lalu membuat jarak dengan setiap orang, karena siapa tahu...
Tuhan memerintahkan untuk kita memberikan perhatian kepada orang miskin yang tertindas. lni jelas perintahnya, jadi jangan dirubah atau dipermudah supaya kita lebih gampang mengelak. Namun, sebagai orang Kristen; kepada kita diajarkan supaya sebagai manusia kita tetap realistis dan dalam realisme kehidupan kita, orang Kristen harus mempunyai pengharapan.
Sebenarnya mengapa kita menjaga jarak dengan sesama kita (baca: orang miskin), bukankah karena kekuatiran kita bahwa diri kita akan dirugikan, bahkan dibohongi sehingga kita bisa menjadi miskin karena mereka? Jadi persoalannya adalah kita berpikir sangat kepada diri kita (baca: egoistis).
Padahal Tuhan sebenarnya mengharapkan bukan yang lebih utama itu duitnya, tetapi yang jauh lebih penting dari duit kita adalah hati kita, karena dari dalam hati yang penuh kasih akan mewujud kepada tindakan-tindakan yang memancarkan kasih itu.
Apakah hati kita tergerak dan menyatu dengan penderitaan para korban bencana alam (walaupun letaknya jauh dari kita) yang karenanya tiba-tiba menjadi miskin? Atau, beberapa menit kita terhenyak, lalu dalam hati atau terang-terangan, kita bilang 'untung bukan menimpa saya (dengan perkataan lain: menimpalah orang lain, pokoknya jangan saya)'.
Apakah hati kita pernah memikirkan 'seandainya yang miskin seperti mereka itu adalah saya'?
Membuka tangan lebar-lebar itu lebih berarti bicara kepada hati kita, jangan hanya dipermudah bahwa itu adalah tindakan semata-mata.
Membuka tangan lebar-lebar itu berarti merubah hati kita ini, supaya dengan perubahan hati, membukakan tangan kita lebar-lebar dan menyambut mereka yang paling hina seperti menyambut Tuhan Yesus.
Semoga! (MAC)
Sumber:
Warta GKI Kebayoran Baru
13 Juli 2008
Back To Previous Page ...