Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 09 March 2009, 19:29:54 GMT+7

Memikirkan Apa Yang Dipikirkan Allah



Pernah tahu akronim (singkatan) "WWJD?" Ya, "What Would Jesus Do?"trend untuk anak-anak muda, dan dapat kita lihat, entah itu digelangkan pada tangannya, entah itu menjadi mata kalungnya, atau ada juga yang berupa kaus. Tulisan WWJD juga ada yang ditempelkan di belakang mobil sebagai sebuah stiker, sehingga banyak orang dapat membacanya. yang artinya: "Apa yang Yesus akan Lakukan?" Akronim WWJD ini pernah dan masih

Kelihatannya atau kedengarannya sepele, tetapi akronim itu perlu dicerminkan pada diri kita sebagai orang percaya. Bukan hanya sebagai tuntunan, tetapi juga sebagai sebuah alarm untuk kita akronim itu. Sederhananya demikian; seorang anak kedapatan oleh kita atau banyak orang sedang tergeletak di pinggir jalan dan kebetulan kita lewat di situ, apa yang kita lakukan? Setelah bertanya itu dalam hati, kita lanjutkan dengan WWJD, apa yang Yesus akan lakukan?

Sesegera mungkin akan ada dua pilihan di hadapan kita, menolongnya seperti Yesus akan menolongnya atau kita melewatinya begitu saja, sebuah keputusan yang tidak mungkin Yesus lakukan. Mungkin bagi kita ini mengada-ada, TETAPI sebagai orang percaya kita butuh untuk merenungkannya.

"WWJD?" bukanlah sekadar pertanyaan reflektif, tetapi juga mengandung semangat aktif bahkan inisiatif, kreatif dan empati. WWJD? Bukan juga sekadar hanya tindakan, tetapi mengandung perasaan dan pikiran. Artinya tindakan itu muncul oleh karena digerakkan oleh perasaan dan pikiran yang selaras dengan tindakan tersebut. Lebih dalam lagi, jika hal ini bertumbuh dan berkembang di dalam diri kita, kita bukan hanya lagi knowing dan doing, tetapi pada puncaknya being. Artinya, kita bukan hanya tahu apa itu WWJD?, tetapi kita juga mempraktekkan dalam arti meneladani apa yang Yesus akan lakukan bahkan itu menjadi karakter kita, kemana pun kita pergi, di mana pun kita berada

Jika Paulus dalam bahasa yang lain mengingatkan jemaat di Roma, agar memahami pembenaran bagi seorang manusia, bukanlah karena melakukan Hukum Taurat, tetapi karena memang TUHAN berkenan untuk membenarkan orang itu. Dalam Injil pun demikian juga Yesus melakukannya, umpamanya keputusan Yesus mengampuni perempuan sundal, orang berdosa, pemungut cukai, dan kita semua.

Saudara-saudara dianggap apakah kita oleh sesama kita? Jangan pernah lagi marah, defensif, membela diri atau bertindak sendiri, jika anggapan sesama itu sepertinya melukai kita. Ingat, Yesus menghargai kita apa adanya? Dia HAKIM, tetapi tidak pernah mengambil hak-Nya untuk itu. Dia PENGUASA, tetapi sedikit pun DIA tidak memamerkannya. Dia TUHAN, tetapi rela menjadi manusia. Itulah Yesus! Adakah Yesus leluasa merasa, berpikir dan berkata serta bertindak melalui Saudara? Jika "Ya", maka kita memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Jika "Tidak", maka kita memikirkan apa yang TIDAK dipikirkan Allah. Amin (TMP)


SUMBER:
Warta GKI Kebayoran Baru
8 Maret 2009
http://www.gkikb.or.id


 Back To Previous Page ...