Mengapa Engkau Mau Mati Bagiku
Di suatu malam yang sepi, seorang ayah duduk di ruang tamu yang luas sambil memandangi hiasan salib yang terbuat dari kayu dengan tubuh YESUS yang bersimbah darah, keluar dari mahkota duri di kepalanya, paku yang ditancapkan di telapak tangan kanan-kirinya, dilambungNya, dan paku yang tertancap di telapak kaki-NYA.
Seorang ayah ini pun mulai bertanya dalam hatiNya,"Tuhan, mengapa Engkau mau mati bagiku? Dan mengapa Engkau mau disalib bagiku?" Selama beberapa bulan, ia masih belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di hatinya.
Sampai suatu ketika, seorang ayah ini mengalami suatu musibah yang membuatnya merasa sangat sedih dan takut, karena anak satu-satunya dan menjadi kesayangannya jatuh sakit dan harus dioperasi. Tanpa berpikir panjang, ia pun mengijinkan sang dokter mengoperasi buah hatinya. Sebelum masuk ke ruang operasi, anak itu berada di ruang rawat untuk dipasang infuse di tangannya yang mungil. Ketika para suster memegang tangan anak itu dan mulai mengangkat suntikan, anak itu mulai berteriak dan menangis, menjerit sekeras-kerasnya memanggil," Papaaa…sakit!! Paaa… tolon Pa… jangan tinggalkan aku Paa… sakiiiit………! Melihat kesakitan dan mendengar teriakan buah hatinya, hati seorang ayah ini tersayat-sayat, terasa perih dan nyeri. Ia mulai menangis dan meninggalkan buah hatinya yang kesakitan.
Keluar dari ruangan itu, seorang ayah ini bertelut berdoa kepada Bapa di Surga. Ia mulai berkata : "Bapa… apa yang bisa kulakukan untuk bisa menggantikan penderitaan putraku? Jikalau ini boleh terjadi, biarlah aku yang merasakan semua sakit yang ia derita, aku rela… mati! Jika itu bisa menjadi keselamatan baginya dan terlepas dari semua sakit yang ia derita."
Belum selesai ayah ini memanjatkan doa, ia mendengar suara yang kencang di dalam hatinya. "Itulah kasih-Ku kepadamu, Aku tidak ingin melihatmu menderita, dan jatuh pada penderitaan kekal. Aku mau mati bagimu dan menderita bagimu, karena Aku sangat mengasihimu. Kamu adalah biji mata-Ku, anak yang Kukasihi, dan kuciptakan dengan kasih dan sayang-KU. Kemanapun Engkau pergi Aku tak akan bisa meninggalkanmu. Aku ingin menggantikan segala penderitaan yang kau alami, karena Engkau adalah buah hatiku… Seperti Engkau mengasihi putramu…" Setelah mendengar suara itu, ayah ini mulai sadar dan menyadari bahwa peristiwa ini adalah sebuah jawaban dari segala pertanyaan yang ada di hatinya.
Akankah kita tetap bertanya,"Bapa, apakah Engkau mengasihiku?". Seberapun besar kita mengasihi, kasih Allah adalah yang terbesar di atas segala-galanya.
Back To Previous Page ...