Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 11 August 2009, 21:51:08 GMT+7

Mengapa Harus Meniru



Pembacaan Alkitab:
Galatia 2:1-14

1. Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke
Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga.
2 Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka
kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan
Yahudi -- dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang
terpandang --, supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah
berusaha.
3 Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah
seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.
4 Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup
masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang
kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya
dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita.
5 Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada
mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.
6 Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu -- bagaimana
kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah
tidak memandang muka -- bagaimanapun juga, mereka yang terpandang
itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.
7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku
telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak
bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat
8 -- karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus
untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah
memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak
bersunat.
9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan
kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai
sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas
sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang
yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;
10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan
memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.
11. Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku
berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.
12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang,
ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat,
tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi
mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.
13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik
dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh
kemunafikan mereka.
14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai
dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan
mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir
dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa
saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"


RENUNGAN
Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi "Engkau tidak seperti ayahmu". Dengan tenang rabi muda menjawab, "Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?"

Sebagai rasul, Paulus adalah pendatang baru. Ketokohan para senior membayanginya. Apalagi jemaat di Yerusalem masih banyak yang mencurigainya, bahkan mempertanyakan kerasulannya. Namun, Paulus tidak gentar. Ia yakin akan panggilan Tuhan baginya. Ia tahu apa tugasnya, yaitu menginjil kepada orang-orang bukan Yahudi (ayat 2,7). Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak mencari permusuhan, malahan dengan giat membangun persekutuan (ayat 9). Namun, ia juga tidak mencari muka di depan para seniornya. Ia berpendirian teguh dan menjunjung tinggi kebenaran. Bahkan ia berani menegur Petrus (Kefas) dengan tulus (ayat 11).

Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain -PAD

TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK
JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN?



 Back To Previous Page ...