Menjadi Umat Yang Memuji Tuhan Dengan Hidup Dan Karya
Isaac Watts
Isaac Watts anak tertua dari 9 bersaudara, lahir pada tahun 1674 di Inggris. Pada umur 14 tahun dia telah lancar berbahasa Perancis, Yunani dan Ibrani. Selain mengarang sekitar 600 lagu pujian dia juga menulis sekitar 50 buku di bidang lain dan berdoa, membaca dan menulis bahasa Inggris, Geografi, Astronomi, Logika dan Filosofi. Isaac tidak hanya mengarang himne tetap juga lagu rohani anak-anak. Sebelum tahun 1694, nyanyian pada kebaktian gereja Inggris hanya berupa nyanyian Mazmur. Isaac mengeluh pada ayahnya. Sebagai ayah yang baik, ayahnya menantangnya "Give us something better young man!".
Pada kebaktian minggu berikutnya gereja mereka mendapat satu lagu baru ciptaan Isaac. Jika Marthin Luther mereformasi teologi kita, dapat dikatakan Isaac Watts mereformasi lagu-lagu gereja (himnologi). Isaac mempuyai talenta yang sangat bervariasi. Dia tidak menyesali melepaskan kesempatan beasiswa untuk bersekolah di Cambridge atau Oxford. Alih-alih dia memilih sekolah Teologi.
Dalam pelayannya di gereja, dia menciptakan lagu-lagu agar jemaat dengan mudah menyimpan isi kotbah dalam hati mereka.
Charles Wesley
Salah satu lagu yang diciptakan oleh Charles Wesley adalah Angin Ribut Menyerang (Jesus Lover Of My Soul) Kidung Jemaat 30a.
Angin ribut menyerang menggetarkan hatiku
Ombak ganas menerjang aku lari pada-Mu
Juru s'lamat tolonglah dan pandukan bidukku
Hingga aku sampailah di labuhan abadi
Lagu ini diciptakan pada tahun 1740 sekitar 2 tahun setelah Charles menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya. Syair lagu ini menyatakan tantangan yang akan dihadapinya pada tahun-tahun pelayanan berikutnya dan hanya Yesus sajalah tempatnya berlindung dan sumber pengharapan. Saat gerakan Metodis menyebar ke seluruh Inggris, Charles berkuda dari suatu tempat ke tempat lainnya sebagai penginjil tunawisma. Kotbahnya yang berapi-api membangkitkan sebagian orang dan dicela orang-orang lainnya. Di tengah pengembaraannya pada tahun 1742, ibunya yang tercinta Susanna meninggal dunia.
Kata-kata terakhir ibunya yang sangat berkesan dalam benak Charles adalah "segera setelah aku dibebaskan (meninggal), nyanyikan Mazmur untuk memuji Tuhan".
Refleksi bagi kita bersama: Hidup dan Karya macam apa yang telah kita saksikan selaku umat yang memuji Tuhan ? Ketika hidup masih diberi, itu berarti masih ada kesempatan berkarya dalam hidup ini untuk memuji nama-Nya sebagai wujud syukur kita kepada-Nya selaku Sumber Hidup dan Karya yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita. Tuhan memberkati pujian kita bersama. Amin.
Sumber:
Warta Gereja GKI Kebayoran Baru
19 Agustus 2007
Back To Previous Page ...