Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 20 December 2001, 15:15:50 GMT+7
=============================
== LEBIH PENTING DARIPADA HADIAH ==
=============================

Seorang pria keluar negeri untuk bekerja dan meninggalkan
gadis tunangannya ter-sedu2. "Jangan kuatirlah, aku akan menulisimu
setiap hari," katanya. Ber-tahun2 ia memang menulisinya. Namun
karena ia senang dengan pekerjaannya, ia tak langsung berencana
untuk pulang. Pada suatu hari, ia menerima kartu undangan pernikahan.
Ternyata kekasihnya itulah yang mau menikah. Dengan siapa? Dengan
penghantar kantor pos yang secara tertentu membawakannya surat2nya
sendiri. Benarlah kata orang, jarak pemisah memanglah membuat hati
tertegun ber-tanya2. Pemuda malang itu pastilah berdialog sendiri,
"Lho, salahku apa sih ? Sudah kukirimi surat2, coklat, dan bunga2."
Disaat relasi jadi hambar dan bermasalah, mulailah muncul daftar
penuh hadiah2 yang pernah diberikan, dan apa saja yang pernah
dilakukannya. Kita berkata, "Kan aku sudah memberimu ini dan itu
.....aku sudah lakukan macam2 urusan buat kau." Tampaknya cinta
kasih secara sederhananya mau dibuktikan lewat kucuran hadiah2 dan
perbuatan baik [saja].

Namun, biarpun pemberian hadiah2 juga perlu, tapi cinta kasih
masih menuntut apa yang menjadi dasar hubungannya: kehadiran yang
dicintai. Aku mengamati, misalnya, koleksi anggrek ibuku. Kalau ibu
bepergian agak lama, mereka menjadi tidak subur dan banyaklah yang
jadi layu. Tapi bila ia kembali hadir, mereka bermekaran dengan
bunga2 yang cantik. Padahal ibuku tidak berbuat sesuatu yang luar
biasa. Ia hanya menghabiskan banyak waktu berbicara dan merawat
mereka.

Aku rasa orang malahan lebih membutuhkan kehadiran perhatian
dan kepedulian. Cinta kasih secara fundamental merupakan komitmen
kepada seseorang. Kita boleh saja punya komitmen terhadap bisnis,
pekerjaan, hobi, olah raga ataupun keanggautaan di Klub ini itulah,
tapi sejujurnya saja, tak satupun dari mereka itu yang mencintai
kita kembali. Hanya seseorang saja yang mampu mencintai kita kembali,
dan karena itulah, maka komitmen terbesar kita sebagai manusia ialah
menghabiskan waktu dan menemani bersama orang2 yang kita cintai.
Dan karena manusia saling membutuhkan kasih sayang dan saling
memelihara, barang2 materi secara terbatas, hanya bisa membantu
mengembangkan cinta. Tapi tak pernahlah itu bisa menggantikan karunia
terbesar berupa kehadiran pribadi.

Martha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia percaya ia harus
makin giat bekerja sebab ia cinta pada ayahnya yang menderita kanker.
Ia harus menyediakan obat2an yang mahal. Saudara2nya - laki2 maupun
perempuan - sering tinggal menemani ayah mereka. Mereka memandikannya,
bernyanyi untuknya, menyuapi makan atau cuma menemaninya saja. Suatu
hari si Martha pedih hatinya. Terdengar olehnya sang ayah ngomong pada
ibunya, "Semua anak2 kita cinta padaku kecuali Martha."
"Lho, kok bisa begini sih...?", Martha mikir2 sendiri. "Padahal akulah
yang setengah mati pontang panting hampir mampus bekerja untuk
mendapatkan uang guna membeli obat2nya ?! Semua saudara2ku bahkan
tidak ikut menyediakan bagian mereka untuk biaya2 sebanyak yang
kulakukan!".
Suatu malam, seperti biasanya Martha pulang malam, ia mengintip
untuk pertama kalinya kedalam kamar dimana ayahnya sedang berbaring.
Terlihat olehnya ayahnya belum tidur. Ia memutuskan untuk mendekatinya
disamping tempat tidurnya. Ayahnya kemudian memegang tangannya dan
berkata, "Aku kangen padamu, rindu sekali... Aku tak punya banyak
waktu lagi. Tinggallah dan temani ayah." Dan itu yang ia lakukan,
semalaman ia tinggal menemani ayahnya, berpegang, menggenggam tangannya.
Esok paginya Martha berkata pada semuanya, "Aku telah minta
cuti. Aku kepingin menemani ayah. Mulai saat ini aku akan
memandikan dan bernyanyi untuknya." Sebuah senyum bahagia muncul
menghias wajah ayahnya. Kali ini ia tahu Martha mencintainya.


*Sebagai anak2, kita membutuhkan jaminan kehadiran orang2
yang kita cintai. Orang2 dewasa kebutuhannyapun juga tidak kurang.*



 Back To Previous Page ...