========================
+++ ENGLISH LANGUAGE +++
========================
Six year old Brandon decided one Saturday morning to fix his parents pancakes.
He found a big bowl and spoon, pulled a chair to the counter, opened the cupboard
and pulled out the heavy flour canister, spilling it on the floor. He scooped
some of the flour into the bowl with his hands, mixed in most of a cup of milk
and added some sugar, leaving a floury trail on the floor which by now had a
few tracks left by his kitten. Brandon was covered with flour and getting
frustrated. He wanted this to be something very good for Mom and Dad, but
it was getting very bad. He didn't know what to do next, whether to put it
all into the oven or on the stove, and he didn't know how the stove worked!
Suddenly he saw his kitten licking from the bowl of mix and reached to push her
away, knocking the egg carton to the floor. Frantically he tried to clean
up this monumental mess but slipped on the eggs, getting his pajamas white
and sticky. And just then he saw Dad standing at the door. Big crocodile tears
welled up in Brandon's eyes. All he'd wanted to do was make them proud.
He was sure a scolding was coming, maybe even a spanking. But his father
just watched him. Then, walking through the mess, he picked up his crying son,
hugged him and loved him, getting his own pajamas white and sticky in the process.
That's how God deals with us. We try to do something good in life, but it turns
into a mess. Our marriage gets all sticky or we insult a friend or we can't stand
our job or our health goes sour. Sometimes we just stand there in tears because we
can't think of anything else to do. That's when God picks us up and loves us and
forgives us, even though some of our mess gets all over Him. But just because we
might mess up, we can't stop trying to "make pancakes," for God or for others.
Sooner or later we'll get it right, and then they'll be glad we tried...
========================
+++ BAHASA INDONESIA +++
========================
Brandon bocah umur 6 tahun. Suatu hari sabtu pagi, dimana biasanya orang
tuanya tidak bekerja dan tidur sampai agak siang, Brandon menyiapkan sebuah
kejutan. Ia berencana membuat pancake.
Ia mengambil sebuah mangkuk besar, sendok, menggeser kursi ke pinggir meja,
dan menarik sebuah tupperware berisi tepung yang berat, menumpahkan sebagian
isinya ke lantai. Lalu ia mengambil tepung itu dengan tangannya, sebagian
berserakan di meja makan, lalu mengaduknya dengan susu dan gula sehingga
bekas adonan berceceran di sekelilingnya.
Ditambah lagi dengan beberapa telapak kaki kucingnya yang ingin tahu apa
yang sedang terjadi. Brandon tampak tertutup dengan tepung dan kelihatan
sangat frustasi.
Yang dia inginkan hanya membuat sesuatu untuk menyenangkan mama dan
papanya. Tapi kelihatannya yang terjadi malah sangat amat buruk. Dia
sekarang tidak tahu harus berbuat apa, apakah memasukkan adonan ke dalam
oven atau dibakar di perapian. Lagipula dia tidak tahu cara menyalakan api
di kompor atau di oven.
Tiba - tiba dia melihat kucingnya menjilati isi adonannya dan secara
reflek mendorong si kucing agar tidak memakan adonan itu. Si kucing
terlempar, membawa serta beberapa butir telur mentah yang ada di meja.
Dengan cemas ia berusaha membersihkan telur yang pecah itu, tetapi justru
terpeleset karena licinnya lantai yang kini dipenuhi dengan tepung, membuat
pakaian tidurnya putih dan lengket. Dan saat itu jugalah dia melihat papa
berdiri di dekat pintu.
Air mata akhirnya berjatuhan di pipi Brandon. Yang ingin dia lakukan adalah
berbuat baik, tetapi justru kekacauan yang luar biasa yang ia buat. Kini ia
hanya dapat pasrah menantikan omelan, jeweran atau mungkin malah pukulan.
Tetapi papa hanya memandang dia. Lalu berjalan melewati semua kotoran yang
ia buat, mengangkat dan menggendong anaknya yang kini sedang menangis
sehingga baju tidur papa ikut menjadi kotor. Papa memeluk dan mencium
Brandon.
Begitulah Tuhan berperkara dengan kita. Kita ingin berbuat sesuatu yang
baik, tetapi malah kekacauan yang kita hasilkan.
Pernikahan menjadi kacau, sahabat karib bertengkar, kita tidak tahan dengan
keadaan di tempat kerja, kesehatan kita memburuk.
Semua ini terjadi justru karena kita ingin berbuat yang baik. Kadang kala
yang tersisa hanya tangisan karena tidak ada lagi yang dapat kita lakukan.
Disitulah saatnya kita menerima kasih dan pelukan Tuhan.
Bila anda merasakan kasih Tuhan mengetuk di pintu hati anda hari ini, jangan
menolakNya. Terima kasih Bapa untuk hari ini, terimakasih untuk
kasihMu.
" But God demonstrates His own love for us in this:
While we were still sinners, Christ died for us."-
Romans 5:8