Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 17 April 2004, 21:59:28 GMT+7
========================
+++ ENGLISH LANGUAGE +++
========================


I'll never forget Easter 1946. I was 14, my little sister Ocy 12, and my
older sister Darlene 16. We lived at home with our mother, and the four
of us knew what it was to do without many things. My dad had died 5 years
before, leaving Mom with seven school kids to raise and no money. By 1946
my older sisters were married, and my brothers had left home.

A month before Easter, the pastor of our church announced that a special
Easter offering would be taken to help a poor family. He asked everyone to
save and give sacrificially. When we got home, we talked about what we could
do. We decided to buy 50 pounds of potatoes and live on them for a month.
This would allow us to save $20 of our grocery money for the offering.
Then we thought that if we kept our electric lights turned out as much as
possible and didn't listen to the radio, we'd save money on that month's
electric bill. Darlene got as many house and yard cleaning jobs as possible,
and both of us baby sat for everyone we could. For 15 cents, we could buy
enough cotton loops to make three pot holders to sell for $1. We make $20
on pot holders. That month was one of the best of our lives. Every day
we counted the money to see how much we had saved. At night we'd sit in
he dark and talk about how the poor family was going to enjoy having the money
the church would give them. We had about 80 people in church, so we figured
that whatever amount of money we had to give, the offering would surely be 20
times that much. After all, every Sunday the Pastor had reminded everyone to
save for the sacrificial offering.

The day before Easter, Ocy and I walked to the grocery store and got the manager
to give us three crisp $20 bills and one $10 bill for all our change. We ran all
the way home to show Mom and Darlene. We had never had so much money before. That
night we were so excited we could hardly sleep. We didn't care that we wouldn't
have new clothes for Easter; we had $70 for the sacrificial offering. We could hardly
wait to get to church!

On Sunday morning, rain was pouring. We didn't own an umbrella, and the church
was over a mile from our home, but it didn't seem to matter how wet we got.
Darlene had cardboard in her shoes to fill the holes. The cardboard came apart,
and her feet got wet. But we sat in church proudly. I heard some teenagers talking
about the Smith girls having on their old dresses. I looked at them in their new
clothes, and I felt so rich.

When the sacrificial offering was taken, we were sitting on the second row from
the front. Mom put in the $10 bill, and each of us girls put in a $20. As we walked
home after church, we sang all the way. At lunch Mom had a surprise for us. She had
bought a dozen eggs, and we had boiled Easter eggs with our fried potatoes!

Late that afternoon the minister drove up in his car. Mom went to the door, talked
with him for a moment, and then came back with an envelope in her hand. We asked what
it was, but she didn't say a word. She opened the envelope and out fell a bunch of
money. There were three crisp $20 bills, one $10 and seventeen $1 bills. Mom put the
money back in the envelope. We didn't talk, just sat and stared at the floor. We had
gone from feeling like millionaires to feeling so very poor. We kids had had such a
happy life that we felt sorry for anyone who didn't have our mom and dad for parents
and a house full of brothers and sisters and other kids visiting constantly. We thought
it was fun to share silverware and see whether we got the fork or the spoon that night.
We had two knives which we passed around to whoever needed them.

I knew we didn't have a lot of things that other people had, but I'd never thought we
were poor. That Easter Day I found out we were. The minister had brought us the money
for the poor family, so we must be poor.

I didn't like being poor. I looked at my dress and worn-out shoes and felt so ashamed
that I didn't want to go back to church. Everyone there probably already knew we were
poor! I thought about school. I was in the ninth grade and at the top of my class of
over 100 students. I wondered if the kids at school knew we were poor. I decided I could
quit school since I had finished the eighth grade. That was all the law required at that
time. We sat in silence for a long time. Then it got dark, and we went to bed. All that
week, we girls went to school and came home, and no one talked much. Finally on Saturday,
Mom asked us what we wanted to do with the money. What did poor people do with money? We
didn't know.

We'd never known we were poor.

We didn't want to go to church on Sunday, but Mom said we had to. Although it was a sunny
day, we didn't talk on the way. Mom started to sing, but no one joined in and she only
sang one verse. At church we had a missionary speaker. He talked about how churches in
Brazil made buildings out of sun-dried bricks, but they needed money to buy roofs. He said
$100 would put a roof on a church.

The minister said, "Can't we all sacrifice to help these poor people?" We looked at each
other and smiled for the first time in a week. Mom reached into her purse and pulled out
the envelope. She passed it to Darlene. Darlene gave it to me, and I handed it to Ocy.
Ocy put it in the offering.

When the offering was counted, the minister announced that it was a little over $100.
The missionary was excited. He hadn't expected such large offering from our small church.
He said, "You must have some rich people in this church."

Suddenly it struck us! We had given $87 of that "little over $100." We were the rich family
in the church! Hadn't the missionary said so? From that day on I've never been poor again.




========================
+++ BAHASA INDONESIA +++
========================


Aku tidak akan pernah melupakan PASKAH tahun 1946. Saat itu, aku masih
berumur 14 tahun, adikku Ocy berumur 12 tahun dan kakakku Darlene 16 tahun.
Kami tinggal bersama Mama.

Meskipun hidup kami pas-pasan, kami berempat tahu apa yang kami lakukan.
Papaku meninggal 5 tahun sebelumnya, meninggalkan Ma-ma seorang diri dengan 7
anak yang masih sekolah.

Pada tahun 1946 itu, kakak-kakakku perempuan yang lebih tua telah menikah dan
kakak-kakakku yang laki-laki sudah meninggalkan rumah.

Sebulan sebelum Paskah, pendeta di gereja kami mengumumkan bahwa akan ada
persembahan khusus PAS-KAH yang akan diberikan kepada sebuah keluarga miskin.
Dia meminta jemaatnya, termasuk kami ber-empat, untuk menghemat uang dan
menyisihkannya untuk persembahan.

Sesampainya di rumah, kami berempat men-diskusikan tentang apa yang dapat
diperbuat. Kami memutuskan untuk membeli 50 pound kentang untuk persediaan
makanan selama 1 bulan.
Ini berarti menghemat uang belanja kami sebesar $20 dan dapat kami sisihkan
untuk persembahan PASKAH itu.

Lalu kami berpikir, apabila kami menggunakan lampu sehemat mungkin dan tidak
mendengarkan radio, kami juga dapat menghemat bayaran listrik untuk bulan itu.
Darlene bekerja membersihkan rumah dan halaman orang lain sebanyak mungkin
bulan itu, lalu Ocy dan aku menjadi pengasuh anak (baby-sitter) bagi sebanyak
mungkin keluarga yang kami dapat temui. Untuk setiap 15 sen uang, kami dapat
membeli beberapa gulung benang katun yang cukup untuk membuat 3 buah gantungan
pot dan dijual seharga $1 per biji. Dari penjualan gantungan pot itu, kami
menghasilkan uang sebanyak $20.

Bulan itu merupakan bulan terbaik yang kami alami. Setiap hari kami menghitung
berapa jumlah uang yang dapat kami sisihkan. Setiap malam, dalam kegelapan,
kami membicarakan tentang keluarga miskin yang akan menikmati persembahan
uang dari gereja. Ada sekitar 80 jemaat yang beribadah di gereja kami, jadi
kami mem-bayangkan berapapun jumlah uang yang kami persembahkan, total
persembahan dari seluruh jemaat pastilah 20 kali lebih besar dari jumlah
uang yang dapat kami persembahkan. Selain itu, setiap Minggu Pendeta
selalu mengingatkan jemaatnya tentang persembahan PASKAH tersebut.

Sehari sebelum PASKAH, Ocy dan aku pergi ke toko bahan makanan untuk menukarkan
seluruh uang koin ka-mi dan manajer toko itu memberi kami uang kertas $20
sejumlah 3 lembar dan selembar $10. Kami berlarian sepanjang jalan menuju rumah
untuk menunjukkan lembaran-lembaran uang kertas itu pada Mama dan Darlene. Kami
belum pernah memiliki uang sebanyak itu sebelumnya. Malam itu kami berempat
sangat bersukacita se-hingga sulit bagi kami untuk memejamkan mata. Kami bahkan
tidak peduli bahwa kami tidak punya baju baru untuk PASKAH; yang penting kami
akan mempersembahkan uang jerih payah kami sebanyak $70 sebagai persembahan
PASKAH. Kami sungguh tidak sabar menunggu untuk segera sampai di gereja!

Hujan mewarnai hari Minggu PASKAH pagi itu. Kami tidak memiliki payung padahal
jarak gereja dengan ru-mah kami lebih dari 1 mil. Tapi hal itu tidak menjadi
masalah bagi kami berempat. Ketika sampai di gereja se-kujur badan kami basah
kuyub. Darlene memanfaatkan potongan kardus bekas untuk menutupi sepatu
usangnya yang mulai menganga.

Tapi karena hujan, kardus itu hancur dan kakinya menjadi basah. Meskipun begitu,
kami berempat duduk di gereja dengan perasaan sangat bangga.


Kami duduk di barisan kedua dari depan. Aku mendengar beberapa remaja
membicarakan tentang anak-anak keluarga Smith yang memakai baju-baju lama.
Tapi walaupun aku memandang remaja-remaja itu berpakaian baju-baju baru,
namun aku tetap merasa kaya. Ketika waktu persembahan tiba, Mama memasukkan
$10, dan masing-masing kami memasukkan $20. Saat berjalan pulang seusai ibadah,
kami terus bernyanyi. Saat makan siang, Mama memberi kejutan. Dia telah membeli
selusin telur dan kami boleh menikmati telur-telur PASKAH kami dengan
kentang-kentang goreng!

Saat menjelang sore, kami lihat Pak Pendeta berkunjung ke rumah kami. Mama
membukakan pintu dan berbicara dengannya sebentar. Lalu, Mama masuk kembali ke
rumah dengan sebuah amplop di tangannya. Kami bertanya apakah isi amplop itu,
tapi Mama tidak memberi jawaban.

Mama membuka amplop itu dan didalamnya terdapat sejumlah uang, 3 lembar
uang $20, selembar uang $10, dan 17 lembar uang $1. Mama memasukkan
kembali uang itu ke dalam amplop.

Tak sepatah katapun diucapkannya, kami hanya terpekur memandangi lan-tai.
Perasaan kami yang semula seperti seorang milioner, kini terhempas menjadi
seperti orang papa yang sangat miskin.

Selama ini kami telah hidup sebagai anak-anak yang bahagia dan kami sering
merasa kasihan dengan anak-anak yang tidak memiliki orang tua seperti kami,
atau yang tidak mempunyai rumah yang penuh dengan saudara laki-laki dan
perempuan serta sering dikunjungi anak-anak lain. Walaupun kami tidak
memiliki cukup sendok dan garpu untuk masing-masing kami, namun justru
menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk berharap siapa yang akan mendapat
garpu atau sendok yang lengkap malam itu. Dua pisau makan yang kami punyai
harus kami pakai secara bergiliran.

Aku tahu bahwa keluargaku tidak memiliki banyak barang seperti yang dimiliki
keluarga lain, tetapi aku tidak pernah berpikir bahwa kami adalah keluarga
miskin.
Tapi, PASKAH tahun itu sungguh menyadarkan kami bahwa ternyata kami termasuk
keluarga yang paling miskin di gereja kami.

Aku sangat tidak suka dikatakan miskin. Tapi ketika aku melihat baju dan
sepatu yang kupakai, hal ini membu-atku merasa tidak lagi ingin pergi ke gereja.
Setiap jemaat pastilah sudah tahu bahwa kami adalah keluarga miskin!

Aku juga berpikir tentang sekolah. Saat itu aku ada di SMA kelas 1 dan meraih
ranking 1 di antara 100 mu-rid yang ada. Tapi apakah teman-teman
di sekolah juga mengetahui bahwa aku termasuk orang miskin? Ingin rasanya aku
memutuskan untuk keluar dari sekolah karena toh aku telah menyelesaikan SMP dan
telah memenuhi batas wajib belajar yang ditentukan aturan hukum yang berlaku
saat itu.

Kami duduk dan diam sepanjang sisa hari Minggu itu. Ketika hari menjadi gelap,
kami semua langsung pergi tidur. Sepanjang minggu itu kami bertiga pergi ke
sekolah dan langsung pulang ke rumah. Tidak ada selera untuk bercanda dan
berbicara sama sekali. Ketika hari Sabtu tiba, Mama menanyakan apa yang ingin
kami lakukan dengan uang persembahan itu. Apa yang kira-kira akan dilakukan
orang miskin bila mendapatkan uang? Kami tidak tahu, karena selama ini kami
tidak pernah merasa bahwa kami orang miskin....

Kami bertiga sebenarnya tidak ingin pergi ke gereja hari Minggu itu, tapi Mama
berkata bahwa kami harus tetap beribadah. Meskipun matahari bersinar cerah,
tapi kami sama sekali tidak berbicara sepanjang perjalanan ke gereja.
Mama mulai menyanyikan sebuah pujian, tapi tak satupun dari kami yang turut
menyanyi dan Mama hanya menyanyikan satu bait saja.

Ada seorang misionaris yang datang berkotbah di gereja kami Minggu itu.
Dia menceritakan tentang bagaimana gereja-gereja di Afrika dibangun dengan
menggunakan batu bata yang dikeringkan dengan tenaga matahari dan gereja-gereja
itu masih membutuhkan uang untuk membuat atap-atap gereja.

Misionaris ini mengatakan bahwa uang sebesar $100 akan cukup untuk membuat atap
gereja mereka. Pendeta gereja kami menghimbau, "Dapatkah kita memberi
persembahan untuk menolong orang-orang di Afrika untuk membangun atap
gereja mereka di sana?"

Kami saling berpandangan dan untuk pertama kalinya sepanjang minggu itu, kami
tersenyum. Mama dengan cepat mengambil amplop uang dari dompetnya. Dia
memberikannya pada Darlene, lalu Darlene memberikannya padaku, dan langsung
kuberikan ke Ocy, dan Ocy meletakkannya di kantong persembahan. Ketika
persembahan itu dihitung, majelis mengumumkan bahwa jumlah semua persembahan
yang terkumpul adalah "$100 lebih se-dikit". Misionaris itu sungguh
bersuka cita. Dia tidak menyangka akan mendapat persembahan yang begitu
besar dari gereja yang kecil ini. Misionaris itu berkata, "Pasti ada
orang-orang kaya di gereja ini."

Perkataan itu menyentuh kami! Kamilah yang mempersembahkan $87 dari total
persembahan "$100 lebih se-dikit" tadi! Bukankah misionaris itu yang mengatakan
bahwa kami kaya?

Sejak saat itu, aku tidak pernah merasa miskin lagi. Aku selalu ingat betapa
kayanya aku karena memiliki Yesus dalam hidupku.

Kiriman dari David G.



 Back To Previous Page ...