Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 05 July 2009, 22:46:31 GMT+7

Pembenaran Diri



Pembacaan Alkitab: Lukas 18:9-14

Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai

9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:

10 Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah farisi dan yang lain pemungut cukai.

11 Orang Farisi itu bediri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah,aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok,bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;

12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.


RENUNGAN

Mengapa kau selalu menyalahkan setiap tindakanku? teriakku kepada Jane, istriku. Apakah aku tidak lebih baik daripada para suami yang jelas-jelas kasar dan tidak mau membantu istrinya? Berapa banyak dari mereka yang dapat menandingi apa yang telah kulakukan dalam pernikahan ini? Mengapa kau tidak pernah memujiku?

Itulah kesalahanmu, kata Jane ketus, Membenarkan tindakanmu dengan membanding-bandingkan seperti itu tidak membantu. Masing-masing kita bertanggung jawab atas tindakan kita.

Aku meninggalkannya tanpa mengucap sepatah kata pun, tetapi beberapa hari kemudian, kata-kata Jane itu terus mengusikku. Saat aku bergumul dengan kejadian itu, pikiranku tertuju pada ceritera Yesus tentang orang-orang Farisi dan para pemungut cukai. [lihat bacaan hari ini, Lukas 18:9-14].

Bukannya merenungkan sikap dan perilakuku, serta menerima kelemahanku, aku malah menghakimi orang lain dengan lancang. Memusatkan perhatian pada kelemahan orang lain adalah salah satu kelemahanku. Aku menerima itu, meminta pengampunan Allah, dan berdoa agar Dia menolongku untuk berubah.


Doa: Allah, tolonglah kami untuk mengenali kelemahan kami dan berusaha mengatasinya sesuai dengan firman-Mu. Amin.

Pokok pikiran: Apakah perkataanku menghakimi atau mengobarkan semangat?

Doa syafaat: Mereka yang selalu mencari-cari kesalahan.


SUMBER
Francis Sackitey (Akosombo, Ghana)
Saat Teduh BPK Gunung Mulia – Jakarta – Indonesia


 Back To Previous Page ...