Senyum Manis Dari Kolong Jembatan
Di ujung jalan terlihat seorang kakek renta berjalan tertatih-tatih. Sesekali dia menghentikan langkah gontainya, untuk sekadar menghela nafas. Setelah dirasa cukup, dan kekuatannya telah pulih, kakek tadi pun segera melanjutkan perjalanannya. Kulit keriput, pungung sedikit bongkok, tulang kaki yang hampir tak kuat lagi menahan berat tubuhnya seolah bukan halangan untuknya dalam mengais rezeki dari sampah rumah tangga di depan rumah, sepanjang jalan yang dia laluinya. Sekitar lima puluh meter dari tempat terakhir ia mengais gelas plastik, terlihat kakek tadi, sebut saja namanya Samin, berbelok arah menuju ke sebuah gubuk reot yang terlihat tak terawat. Tak berapa lama lagi kakek Samin keluar kembali dari gubuk itu dengan bertelanjang dada. Duduk sejenak, menghela nafas perlahan, sambil meregangkan tangan dan kakinya. Tak mau berlama-lama beristirahat, kakek Samin melanjutkan pekerjaanya lagi dengan membersihkan gelas-gelas yang telah dikumpulkannya tadi.
Sambil melakukan pekerjaaannya itu, senyum ramah dan ucap salam selalu tereskpresi dari wajahnya yang sumringah itu. Bahkan kepada yang belum dikenal sekali pun, Pak Samin selalu mengundangnya untuk sekadar ngobrol dan bercengkrama. "Mampir Pak! ini ada singkong rebus...., sarapan dulu!" Begitulah sapanya tatkala ada orang lewat di depan gubuknya. Tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar dari gubuk tadi, nyanyian pujian dalam bahasa Jawa, "wonten panglipuran... ing Gusti, Yesus....., Wonten panglipuran endah.." yang artinya (ada penghiburan, dalam Tuhan Yesus..., ada penghiburan indah....). Walaupun tak semerdu penyanyi top yang biasa tampil di televisi, namun senandungnya dapat membuat hati yang mendengar menjadi ayem (damai).
Meskipun hidup Pak Samin tak senyaman kehidupan kita, namun suka cita, senyum sumringah tetap tampak dari bibir keringnya. Baginya kemiskinan itu bukanlah momok yang harus ditakutkan. Toh hidup miskin bukanlah satu hal baru bagi Pak Samin, sebab sejak kecil pun dia sudah mengalaminya. Justru seringkali Pak Samin menggangap kemiskinan itu merupakan pandum "anugrah" dari Allah – "pemberian" dalam artian, sesuatu yang diberikan Allah, sebagai pendukung dari peran yang harus dijalankan – dalam hubungannya dengan ujian hidup. Mirip seperti takdir – dalam pengertian positif – yang sudah digariskan oleh Allah untuk dijalani.
Meski hidup miskin biasa dialami Pak Samin, dia percaya bahwa ada satu kekuatan yang memampukan dia untuk dapat bertahan sampai saat ini. Di samping karena ketegaran dan usahanya yang kuat nrimo("menerima" dengan terus mensyukuri). Satu hal yang membuat dia mampu "menikmati" kemiskinan, adalah, harapan bahwa kelak aku akan menerima janji dan berkat Tuhan yang telah tertuang dalam firman-Nya. Yakni, janji-janji tentang adanya berkat-berkat khusus di balik kemiskinan. Bukan bermaksud memberi dukungan pada mereka eforia eskatologi, dan pengharapan semata – yang secara tak sadar telah menafikan keberadaan realitas yang lain.
Dengan besikap seperti ini, Pak Samin seolah ingin membuktikan bahwa, menikmati hidup itu tak harus dimulai dengan bergelimang harta. Hidup yang cerah itu tak melulu karena kenyamanan tempat tinggal atau materi yang melimpah, walaupun itu perlu. Tapi hidup yang indah dan nyaman itu ternyata mampu dicipta dengan senyuman dan suasana hati yang bungah (suka cita), karena sadar akan janji Tuhan kepadanya. Hidup yang indah itu bisa dinikmati dengan kesadaran penuh bahwa apa yang dinamakan kekayaan itu ternyata tak sekadar berbentuk materi. Kekayaan itu nyatanya lebih luas daripada sekadar kenikmatan duniawi. Kekayaan yang hakiki itu adalah berkat khusus pemberian Ilahi yang merupakan jawaban dari janji kekal dan hasil iman serta pengharapan yang ikhlas akan sebuah masa depan yang cerah sebagai "empunya kerajaan Allah" (Lukas 6:20).
Sumber: Slamet W
Warta Jemaat Antiokhia edisi 24 Januari 2010
Back To Previous Page ...