Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 20 December 2001, 14:30:06 GMT+7
Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru
saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil
adalah Sosiologi.

Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya
harapkan setiap orang memilikinya.Tugas terakhir yang diberikannya
diberi nama "Tersenyum". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke
luar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan
reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah bersahabat
dan selalu tersenyum pada setiap orang dan
mengatakan "hello", jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb., suami saya, anak bungsu
saya, dan saya pergi ke restoran McDonald's pada suatu pagi di
bulan Maret yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah
satu cara kami membagi waktu bermain yang khusus dengan anak kami.

Kami berdiri dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika
mendadak setiap orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan bahkan
kemudian suami saya ikut menyingkir. Saya tidak bergerak sama sekali
.... suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika saya berbalik
untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika saya berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor"
yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang
lelaki tunawisma.

Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang
dekat dengan saya, ia sedang "tersenyum". Matanya yang biru
langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat
diterima. Ia berkata "Good day" sambil menghitung beberapa koin yang
telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya
dengan gerakan aneh ambil berdiri di belakang temannya. Saya
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental
dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya.

Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka. Wanita
muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia
berkata, "Kopi saja, Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
(jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan
tubuh mereka, mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin
menghangatkan badan).

Kemudian saya benar-benar merasakannya - desakan itu sedemikian kuat
sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata
biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya
menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai
semua tindakan saya. Saya tersenyum dan berkata pada wanita di
belakang counter untuk memberikan pada saya dua paket makan
pagi lagi dalam nampan terpisah.

Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah
dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya.
Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di
atas tangan dingin lelaki bemata biru itu. Ia melihat ke arah saya,
dengan air mata berlinang, dan berkata "Terima kasih."

Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, "Saya
tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui
diriku untuk memberimu harapan." Saya mulai menangis
ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan
anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada saya dan
berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku,
Sayang. Untuk memberiku harapan."

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami
tahu bahwa hanya karena Rahmat Tuhan kami diberikan apa yang dapat
kami berikan untuk orang lain. Kami bukanlah orang-orang yang rajin
ke gereja, tetapi kami adalah orang-orang Yang percaya kepada
Tuhan. Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni
dan indah.

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini
di tangan saya. Saya menyerahkan "proyek" saya dan dosen saya
membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah
saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk pelahan
dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca
dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari
Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk
disembuhkan.

Dengan caraku sendiri saya telah menyentuh orang-orang yang ada di
McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri
ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus
dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari:

Penerimaan yang tak bersyarat. Banyak cinta dan kasih sayang yang
dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan
mempelajari bagaimana untuk Mencintai sesama dan memanfaatkan
benda-benda - bukannya mencintai benda dan memanfaatkan
sesama.


Seorang Malaikat menulis :

Banyak orang akan datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya
sahabat2 sejati yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu.

Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu,
Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu.

Kemarahan hanyalah satu kata yang dekat dengan bahaya.

Pikiran yang besar membicarakan ide-ide;
Pikiran yang rata-rata membicarakan kejadian-kejadian;
Dan pikiran yang kerdil membicarakan orang-orang.

Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia tidak
melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka.

Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak;
Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak;
Tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.

Orang-orang muda yang cantik adalah hasil kerja alam, tetapi
orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya seni.

Belajarlah dari kesalahan orang lain.
Engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu
dari dirimu sendiri.

Lidah praktis tidak berat sama sekali, tetapi
hanya sedikit orang yang dapat memegangnya.


 Back To Previous Page ...