Article Time Stamp: 20 December 2001, 13:53:38 GMT+7
"Bertemu dengan Tuhan"
Hampir tiap malam kita bisa melihat di pusat kota
Amsterdam para pelacur, gelandangan, pemabuk dan
para pecandu. Bahkan pada tahun yang lampau di
Amsterdam telah diadakan Olympiade khusus untuk
para homo dan lesbian yang disebut Gaygames oleh
sebab itulah disini banyak sekali orang menderita
penyakit AIDS. Kota tempat saya tinggal letaknya
hanya 36 km dari Amsterdam. Beberapa hari yang
lampau saya harus bertemu dengan seorang pejabat
tinggi di salah satu hotel bintang lima di pusat
kota Amsterdam, maka dari itu saya harus melewati
daerah kumuh tempat para gelandangan dan pecandu
disitu.
Tiba-tiba saya mendengar panggilan "Selamat pagi
Tuan!", saya menoleh ke belakang dan saya melihat
seorang pengemis tua dengan wajah yang kotor, dekil
dan bau alkohol rupanya ia sudah berminggu-minggu
tidak mandi. Pakaiannya pun bau dan kotornya sudah
tak terlukiskan lagi. Pengemis ini sedang memegang
cangkir besar yang berisikan kopi panas.
Ia menawarkan kepada saya "Maukah Bapak minum seteguk
dari air kopi saya ?" Dalam hati saya jangankan minum
dari cangkirnya dekat dengan diapun rasanya sudah
muak dan jijik, apalagi kalau melihat kumis dan
jangutnya yang masih penuh dengan sisa-sisa makanan
dari kemarin. Disamping itu kalau saya minum dari
cangkir bekas dia, jangan-jangan nanti saya akan
ketularan penyakit AIDS ? Logika dan otak saya melarang
saya untuk menerima tawaran tsb, tetapi hati nurani
saya menganjurkannya: "Percuma lho ke gereja tiap minggu,
kalau masih mempunyai pikiran dan praduga buruk
terhadap orang lain!"
Akhirnya saya datang ke pak tua itu dan minum
seteguk kopinya, tetapi logika dan pikiran saya
berjalan terus.
"Apa sih maksud si pak tua ini, menawarkan kopinya
kepada saya, jangan-jangan ia mau minta duit !"
Tetapi saya sudah siap dan ikhlas untuk memberikan uang
kepadanya sebagai imbalan dari kopi tersebut.
Walaupun demikian saya ingin menanyakannya terlebih
dahulu: "Kenapa Bapak menawarkan kopi kepada saya?" -
"Saya ingin Anda bisa turut menikmatinya, bagaimana
enaknya kopi di pagi hari apalagi pada saat dingin
seperti sekarang ini."
Ketika saya mendengar jawaban tsb saya merasa
malu dengan praduga saya terhadap dia.
Walaupun demikian logika saya masih belum mau menyerah,
saya masih tetap tidak percaya: - masa sih si
pak tua ini tidak ada maunya, masa sih si pak tua ini
tidak ingin mendapatkan sesuatu imbal balik dari saya,
masa sih ia mau memberikan sesuatu dengan tanpa
pamrih, apalagi pada saat ini ia lagi membutuhkannya
pasti ia akan minta uang ! Berdasarkan pemikiran diatas,
akhirnya saya menanyakannya sekali lagi kepada dia
"Adakah sesuatu yang bisa saya bantu untuk anda ?"
Pengemis itu menjawab:
"Ada!" wah betapa senangnya saya ketika mendengar jawaban
tersebut, sebab dengan demikian saya bisa membuktikan
analisa saya yang jitu!
"Apakah anda membutuhkan sesuatu?" - "Tidak!"
jawabnya, "saya hanya ingin dipeluk saja oleh Anda,
karena saya sudah tidak mempunyai kawan maupun sanak
keluarga lagi." jawab pengemis tsb. Saya kaget
mendengar jawaban yang tak diduga tsb, pertama
karena analisa dan praduga saya tidak benar,
tetapi lebih daripada itu, bagaimana mungkin saya
bisa memeluk seorang gelandangan yang sudah
berbulan-bulan tidak mandi sehingga pakaiannya
kotor dan bau sekali, apalagi sebentar lagi
saya harus bertemu dengan seorang pejabat
tinggi, jangan-jangan pakaian saya akan menjadi
bau dan kotor juga. Bahkan "Jangan-jangan bisnis
saya bisa gagal nanti!", karena pejabat
tinggi itu mungkin akan merasa diremehkan oleh
saya, kalau saya datang menemuinya dengan pakaian
kotor dan bau !
Tetapi entah kenapa, tanpa saya bisa dan mau
berfikir lebih lanjut, saya langsung memeluk pak
tua pengemis tersebut dengan erat,
seperti saya memeluk putera saya sendiri. Tanpa
saya sadari kejadian tersebut disaksikan oleh banyak orang
disekitarnya, yang merasa aneh dan janggal melihat
seorang yang berpakaian lengkap dengan dasi dan
jas mau memeluk seorang pengemis tua, yang kotor
dan bau, seperti pada saat pertemuan dari dua orang
kawan akrab yang telah bertahun-tahun
tidak saling berjumpa. Pada saat saya sedang
memeluk pak tua tersebut, seakan-akan terdengar suara
sayup-sayup yang sangat lembut:
"Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu,
sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku
yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!"
Saya merasa seakan-akan saya telah bertemu dan memeluk
Tuhan Yesus pada saat tersebut. Saya telah diundang minum
kopi oleh seorang pengemis, tetapi kebalikannya
apakah saya bisa dan saya mau mengundang seorang
pengemis untuk minum dan makan bersama dengan saya
dan keluarga saya?
Kita lebih mudah dan lebih ikhlas memberikan uang kepada seorang
pengemis daripada mengundang dia untuk turut makan atau minum
bersama dengan kita. Apakah Anda pernah mengundang seorang pengemis
untuk makan atau minum dirumah Anda? Berdasarkan pengalaman tersebut
saya baru sadar bahwa kalau kita mau mencari Tuhan carilah dengan
"Kasih", jangan dengan pikiran logika, karena kekuatan dan kuasa kasih
ada jauh lebih besar dan lebih kuat dari segala macam logika yang ada
di dunia ini. Kalau orang minta bantuan kepada kita gantilah pikiran
logika dengan perasaan kasih, karena Tuhan juga mengasihi kita
tanpa menggunakan logika. Bunuhlah perasaan praduga
yang ada di dalam diri kita dan hapuslah perkataan "Jangan-jangan" yang
ada di dalam kamus kehidupan kita! Ibu saya tidak bisa menulis dan
membaca. Ia membesarkan kami anak-anaknya hanya dengan penuh
rasa kasih sayang tanpa segala macam theori physiologi pendidikan,
tetapi saya masih bisa merasakan hasilnya sampai dengan detik ini,
walaupun setengah abad telah lewat. Logika bisa mengotori dan
meracuni perasaan kasih. Logika adalah tembok pemisah antara Sang
Pencipta dengan manusia!
Yesus mengatakan, "Jikalau kamu mengasihi Aku,
kamu akan menuruti segala perintahKu". (Yoh 14:15)