Subscribe
StumbleUpon  Del.icio.us  Facebook  Reddit  Add to diigo  

Article Time Stamp: 16 November 2008, 21:42:34 GMT+7

Yesus Tinggal Dalam Kita



Kesatuan antara ibu Teresa dan Tuhan Yesus membuatnya melihat dengan jelas gambaran Tuhan Yesus dalam sosok orang-orang yang tercampakkan. Kesatuan inilah yang memberikannya kekuatan untuk melihat setiap manusia, bahkan mereka yang telah dihancurkan oleh penyakit, kemiskinan, penderitaan - sebagai wadah Tuhan.
Semangat Tuhan, dengan bebas dinyatakan kepada jiwa manusia melalui kemauan baik, dikomunikasikan Tuhan secara total dengan memberikan diri-Nya sendiri.

Menjadikan diri milik Kristus sepenuhnya dan menjalani hidup dengan baik seturut kehendak-Nya bukan semata-mata disyaratkan bagi mereka yang telah mengucapkan kaul kehidupan melainkan bagi semua pengikut Kristus dalam menjalankan perintah-Nya yaitu : "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagaimana Aku mengasihi kamu." (Yohanes 15 : 12)

Kesediaan menerima penderitaan orang-orang yang tidak berdaya seperti ditunjukkan mother Teresa, merupakan tindakan yang memanifestasikan penebusan Kristus atas hidup kita. Dengan bergabung dalam penebusan Kristus, beban dunia yang telah jatuh dalam dosa ditanggung bersama-sama oleh orang-orang percaya dalam ikatan kasih.

Kisah yang disampaikan oleh mother Teresa dibawah ini sungguh menggugah jiwa kita untuk melihat rasa syukur orang-orang yang telah berjumpa dengan Kristus melalui pelayanan mother Teresa :

"Kaum papa adalah orang-orang yang mengagumkan. Suatu malam kami keluar dan mengambil empat orang dari jalanan. Salah seorang, yaitu seorang wanita baya berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Saya berkata kepada para suster : "Tolong rawat ketiga orang itu, biarkan aku mengurus yang satu ini."

Saya berusaha memberikan yang terbaik kepada wanita yang sedang sekarat ini dengan memberikan seluruh perhatian dan cinta kasih saya kepadanya. Ketika saya membaringkannya diatas dipan, saya melihat senyuman manis dibibirnya. Ia menggenggam tangan saya, kemudian berkata; "Terima kasih". Sepatah kata saja, kemudian ia meninggal.

Ucapannya yang tulus menyadarkan saya dan membuat saya bertanya kepada diri sendiri :"Apa yang akan kulakukan apabila berada ditempatnya?" Jawabannya sederhana. Saya akan mencoba menarik perhatian untuk diri saya sendiri dan berkata :"Saya lapar dan haus, saya kedinginan, saya kesakitan, saya akan mati" dan perkataan lainnya yang menjadikan saya pusat perhatian. Tetapi wanita ini memberikan jauh lebih banyak, yaitu cinta yang sarat dengan rasa syukur.

Seperti kisah seorang pria yang kami angkat dari selokan dan setengah tubuhnya telah digerogoti cacing. Kami segera membawanya ke tempat penampungan kami dan merawatnya. Dengan tersenyum ia berkata : "Saya telah hidup seperti binatang dijalanan hampir sepanjang hidup saya, tetapi sekarang saya akan mati seperti malaikat, diperhatikan dan dicintai."

Sungguh menyentuh hati menyaksikan kebesaran hati seorang pria yang dapat berkata semulia itu dan meninggal seindah itu. Ia tidak menyalahkan seorangpun dan tidak pula memaki atau membandingkan nasibnya dengan siapapun. Seperti malaikat, itulah kebesaran hati mereka, kaum papa.

Itulah sebabnya kita mempercayai sepenuhnya sabda Yesus dalam kitab Matius 25 : 34-36 : "............ Terimalah kerajaan yang disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Karena ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan, ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian, ketika Aku sakit, kamu melawat Aku, ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku."


Doa:

Ya Tuhan yang Maha Pengasih;
Kiranya aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
Kiranya aku lebih suka memahami daripada dipahami,
Kiranya aku lebih senang mencintai daripada dicintai,

Karena hanya dengan memberi kami akan menerima,
Hanya dengan mengampuni kami diampuni,
Dengan mati suci, kami akan bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya


Doa St. Fransiskus Asisi


Sumber:
Disarikan dri buku "Suffering Into Joy"
Ajaran bunda Teresa tentang kebahagiaan sejati


 Back To Previous Page ...